Seperti belitan tali kasat mata, genggaman tanganmu ada dan tiada.
Terkadang dalam biru ia melenakan aku, rindu yang mengalir seperti mata air yang tak kering di kemarau panjang, akan penggantimu yang kelak kupeluk selamanya.
Terkadang ia hitam jelaga, menggenggam hatiku sampai sesak, sampai lebur.
Rindu, sebuah cinta yang pernah muncul sekejap saja, untuk pergi dan meninggalkan gurat yang maha raksasa.
Aku, menunggumu, tak sudah sudah.
0 orang meong meong:
Poskan Komentar