Kau
meninggalkan
lubang hitam.
Tak berdasar,
di hatiku..
Terima kasih,
terima kasih..
Pernah menjadi.
Supernova,
matahariku..
Hujan meteor pun berlalu,
tinggal aku dan kebutaanku.
There are things that remain the same, the place you will always come home to.
Senin, 13 Oktober 2008
Jumat, 10 Oktober 2008
Menatap dunia
Adalah
empati.
Pedih.
Luka.
Karena,dunia tak lagi surga.
Di jalan,
kutemu hati hati bolong.
Dan berkarat.
Wajah wajah.
Tak berwudlu.
Hilang aras,hilang sinar.
Tapi,
sungguh harap itu tercipta,
dari surau surau kecil,
yang lamat lamat mengumandangkan namaMu,duh Gusti.
Dan tangan tangan yang memberi,
ditingkahi senyum polos,
yang berpapasan denganku,malam tadi.
Pedih ya pedih.
Luka dan luka,
memeluk cintaMu,
walaupun sungguh kaki ini lepuh berjalan..
Tuhan,
aku ingin berdialog denganMu,
tentang dunia,dan seisinya.
Karena menatap dunia dari paradigmaku,
sungguh aku hampir tak kuat membendung tanya yang membanjir.
empati.
Pedih.
Luka.
Karena,dunia tak lagi surga.
Di jalan,
kutemu hati hati bolong.
Dan berkarat.
Wajah wajah.
Tak berwudlu.
Hilang aras,hilang sinar.
Tapi,
sungguh harap itu tercipta,
dari surau surau kecil,
yang lamat lamat mengumandangkan namaMu,duh Gusti.
Dan tangan tangan yang memberi,
ditingkahi senyum polos,
yang berpapasan denganku,malam tadi.
Pedih ya pedih.
Luka dan luka,
memeluk cintaMu,
walaupun sungguh kaki ini lepuh berjalan..
Tuhan,
aku ingin berdialog denganMu,
tentang dunia,dan seisinya.
Karena menatap dunia dari paradigmaku,
sungguh aku hampir tak kuat membendung tanya yang membanjir.
Selasa, 07 Oktober 2008
Infatuasikah.
Aku ingin,
memberi nama pada perasaan jutaan kupu kupu yang hinggap di batinku,
malam tadi,
saat aku memikirkan dirimu.
Karena,
cinta pun tak terasa sepedih dan segetir itu.
Dan patah hati tak pernah berdentang senyaring itu.
Infatuasikah?
Yang aku tahu,
lagi lagi darimu,
kucipta puisi dan imaji tentang rasa,
yang kemarin kujanji tak akan kujejak lagi.
Ternyata,
aku bisa begitu benci sekaligus begitu cinta.
Padamu.
memberi nama pada perasaan jutaan kupu kupu yang hinggap di batinku,
malam tadi,
saat aku memikirkan dirimu.
Karena,
cinta pun tak terasa sepedih dan segetir itu.
Dan patah hati tak pernah berdentang senyaring itu.
Infatuasikah?
Yang aku tahu,
lagi lagi darimu,
kucipta puisi dan imaji tentang rasa,
yang kemarin kujanji tak akan kujejak lagi.
Ternyata,
aku bisa begitu benci sekaligus begitu cinta.
Padamu.
Rabu, 01 Oktober 2008
Antara Kita
Mungkin tak ada kata.
Selalu dan selalu hanya ego yang bicara.
Tapi,kau terlalu kuat bagiku..
Karena hati ini terlanjur jatuh padamu..
Selalu dan selalu hanya ego yang bicara.
Tapi,kau terlalu kuat bagiku..
Karena hati ini terlanjur jatuh padamu..
Langganan:
Postingan (Atom)