Pusaran perasaan,
mungkin mengalahkan janji dan sumpah.
Hanya kata yang tinggal kata.
Pusaran perasaan,
yang dulu sekali pernah aku tenggelam di dalamnya,
dan tidak pernah aku ingin kembali lagi.
Pusaran perasaan,
yang bahkan hanya dengan menyaksikannya,
kamu rasakan kengerian yang merasuk, yang tembus ke tulangmu.
takut terjerumus ke dalam kekacauan yang sama.
Jadi aku diam dan memandang.
Aku pernah tahu rasaya.
Aku ingin, tapi aku takut kembali.
Pelukan saja kukirimkan,
untuk kalian yang remuk redam.
Nanti juga hilang.
Nanti juga hilang.
There are things that remain the same, the place you will always come home to.
Selasa, 31 Desember 2013
Rabu, 20 November 2013
Pinjaman
Masuk sebentar,
bergeliat di riuh gelisah, mungkin anak topan mungkin sekedar angin lalu yang agak keras.
Tergesa
Karena apa yang ada adalah sementara.
Diam dan pejam.
Pegang dan hilang.
Hirup dan hidup.
Sebentar saja, temani aku.
bergeliat di riuh gelisah, mungkin anak topan mungkin sekedar angin lalu yang agak keras.
Tergesa
Karena apa yang ada adalah sementara.
Diam dan pejam.
Pegang dan hilang.
Hirup dan hidup.
Sebentar saja, temani aku.
Rabu, 13 November 2013
Tertinggal
Di pangkal lidah,
ada rasa yang tertinggal dan tidak bisa kuenyahkan.
Seperti baal.
Pahit yang entah sajak kapan bercokol di sana.
Di pangkal lidah,
ada pahit yang membekas.
Dan beratus kali kucoba menghapus,
tetap saja rasa itu tinggal dan menolak hilang.
Bekas.
Pahit.
Seperti polusi rasa yang mengganggu, kamu tahu?
Seperti semua rasa yang kaucecap setelah itu tidak sama lagi.
Dan kamu perlahan lupa seperti apa rasa sebenarnya.
Maka kamu belajar melupakan kalau itu bukan bagian dari indramu.
Dan kamu belajar menerima.
Mencecap rasa, dengan satu rasa yang kamu tahu ada di pangkal lidah.
Merasakan bahwa, semanis apapun dunia, ada pahit yang tinggal di benakmu,
dan kamu tahu, tak akan pernah bisa menghapusnya.
ada rasa yang tertinggal dan tidak bisa kuenyahkan.
Seperti baal.
Pahit yang entah sajak kapan bercokol di sana.
Di pangkal lidah,
ada pahit yang membekas.
Dan beratus kali kucoba menghapus,
tetap saja rasa itu tinggal dan menolak hilang.
Bekas.
Pahit.
Seperti polusi rasa yang mengganggu, kamu tahu?
Seperti semua rasa yang kaucecap setelah itu tidak sama lagi.
Dan kamu perlahan lupa seperti apa rasa sebenarnya.
Maka kamu belajar melupakan kalau itu bukan bagian dari indramu.
Dan kamu belajar menerima.
Mencecap rasa, dengan satu rasa yang kamu tahu ada di pangkal lidah.
Merasakan bahwa, semanis apapun dunia, ada pahit yang tinggal di benakmu,
dan kamu tahu, tak akan pernah bisa menghapusnya.
Rabu, 11 September 2013
There's something about earth.
Ya Allah serius banget ya judul postingan kali ini. Hihihi.
Jadi, beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan buku berjudul The Edible History of Humanity. Salah satu bab dalam buku itu menjelaskan bahwa makan yang saat ini kita makan, yang berasal dari alam, sesungguhnya adalah bentuk kecacatan dan mutasi yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Take an example, wortel. Wortel yang kita kenal saat ini berwarna oranye dengan rasa yang sedikit manis. PAdahal, wortel liar sebenarnya berwarna...ungu dan putih. Seperti bit dan lobak. wortel yang berwarna oranye saat ini adalah hasil rekayasa genetika untuk mebuat rasanya menjadi lebih manis. Jadilah wortel yang kita kenal saat ini berwarna oranye.
Jagung yang direkayasa agar bertongkol dua, bahkan tiga.
Padi yang direkayasa agar bulir-bulir padinya kuat menempel meskipun terbawa angin.
Gandum yang direkayasa agar selubung bijinya mudah dilepaskan.
Tidak berhenti sampai di situ, manusia juga memanipulasi waktu tumbuh tanaman agar memastikan ketersediaan pangan sesuai dengan kebutuhan manusia.
Human turned from hunter into farmer.
Dari segi manusia, domestikasi ini mungkin menguntungkan, tapi dari segi tanaman, semua sifat alami itu membuat mereka tergantung kepada manusia. More convenient food, less resilient plant.
Domestikasi tanaman ini ternyata membuat manusia menjadi lebih lemah. Ilmuwan menemukan bahwa manusia yang hidup dengan berburu memiliki fisik yang lebih kuat daripada manusia yang hidup dengan bertani dan memakan makanan dengan jenis terbatas.
Basically, back then when we were still living in a cave, eating whatever nature gives us... we were much healthier. And then, people started to notice that by piling food, they have more power. Keharusan berbagi makanan, egalitas dan semua kewajiban saat hidup nomaden dan berburu hilang saat manusia mulai menetap dan bertani. Manusia mulai menginginkan barang, sesuatu yang lebih yang tadinya tidak bisa dimiliki saat harus hidup berpindah-pindah. Food was once a powerful barter tools. We produce food more than we could eat, thus we exploit nature, turn it into somekind of crippled organism, squeeze it until the very last drop.
Nowadays, it's not only about food. Kita mengeksploitasi semua yang kita bisa. Logam. Minyak. Kayu. Gas Bumi. Tanah. Pasir. Air. Bukan karena kita butuh, tapi karena sebagian kecil dari manusia tidak dapat memuaskan ketamakan. They still want more. Health, power, money, over another people, whatever you can get.
And it's frightening. Human is frightening. Ilegal logging, mining without land reclamation, genetics mutation. We build the castle of gold on a pile of ashes. And i wonder, how long we will survive from nature's wraith.
Manusia memanipulasi alam, dan alam dengan segala keajaiban dan kemampuannya untuk menyeimbangkan diri, beradaptasi pada perubahan tersebut. Come to think of it, nature only reacted to the change. To the damage made by human. Saat ini, sudah mulai banyak manusia yang peduli lingkungan. Kembali ke pola hidup sehat, organik, bertanam sendiri di rumah... and i think that's good. I just hope that it's not too late.
As for me, i have to admit that i dont really do so called eco-green living. But i try. I dont litter, i sleep with the light off, i use water as little as possible, and hopefully, i can add another good habits to help preserve the nature.
"Earth provides enough to satisfy every man's needs, but not every man's greed"- Mahatma Gandhi.
Jumat, 23 Agustus 2013
A break too long.
It was started when, i dont know.
I dont even know.
But lies had been shoved into me, i have a hard time distinguish them with the real truth.
And then i was four,or three?
the tangy taste inside my little tongue,
shoving the reality into me while i barely understand the word life itself.
But i do remember too well. and too much.
I just didnt understand, at that time.
I think i still dont understand, though.
And then i walked the path,
sometimes i chose it, sometimes it chose me.
Having whatever normality a girl can grasp, while showing the world indifference.
Because i was so proud and so damn determined to show the world "in your face".
A not so subtle slam i unconsciously build inside me.
How was i supposed to know,
that years after years after years things could go back, haunting you?
How was i supposed to know,
that years after years everything you do, spinning around those moments?
And still,
how much you despise it,
you have nothing to blame on.
It was all in you.
You have nowhere to talk to,
Because the one you should trust at the first time,
is the one that create your whole life based on a lie.
I choke it back.
I struggle to shove it inside me.
Because none of them matters,
Because none of them matters.
Because none of them matters!!!
Because none of them matters, right?
Rabu, 27 Februari 2013
Lebih dari laut
Saya rindu laut.
Saya rindu tersedak air asin yang memabukkan itu.
Saya rindu rambut saya keras dan lengket dibasuh air garam.
Saya rindu mencium amis kebiruan, dari jarak puluhan meter.
Saya rindu ikan ikan itu berseliweran di depan mata, menggoda.
Saya rindu degup jantung yang mendadak cepat dan telinga yang mendadak pengang tiap badan ditolakkan melawan gaya apung.
Saya rindu air yang hangat dan banyak itu, memeluk kulit yang lamat terbakar matahari.
Saya rindu berenang ke kedalaman. Untuk dikembalikan ke hangat permukaan.
Tapi kalau ada kamu, kalah semua rindu itu.
Saya rindu tersedak air asin yang memabukkan itu.
Saya rindu rambut saya keras dan lengket dibasuh air garam.
Saya rindu mencium amis kebiruan, dari jarak puluhan meter.
Saya rindu ikan ikan itu berseliweran di depan mata, menggoda.
Saya rindu degup jantung yang mendadak cepat dan telinga yang mendadak pengang tiap badan ditolakkan melawan gaya apung.
Saya rindu air yang hangat dan banyak itu, memeluk kulit yang lamat terbakar matahari.
Saya rindu berenang ke kedalaman. Untuk dikembalikan ke hangat permukaan.
Tapi kalau ada kamu, kalah semua rindu itu.
Langganan:
Postingan (Atom)