Minggu, 12 Agustus 2012

Konklusi, saat ini.

Langkah yang tergesa,
hati yang jatuh tiba-tiba,
dan sebuah ironi tentang semua yang pernah kuingkari.

Aku menandai diriku sendiri,
tentang syarat, tentang persona, tentang semua yang mungkin terjadi, kalau aku harus kembali ke sebuah siklus jatuh hati.
Bukan kesombongan, hanya sebuah janji kepada diri sendiri,
untuk berhenti sakit lagi.

Tapi, seperti semua cerita yang hanya mungkin terjadi di buku berwarna,
aku tersandung.
Dan semua dinding yang kukira kubuat dengan cukup kuatnya, merapuh jatuh.
Seakan semua masa sebelum titik ini, hanyalah sebuah tirai kasat mata.
Tuhan menyibaknya tiba-tiba, mungkin sambil tertawa.
Ah, Kamu yang selalu penuh canda dan rahasia.

Tuhan menyelipkan spasi, diantara kita.
Kamu menyelipkan waktu, diantara kita.
Dan aku menyelipkan sebuah doa, sekuatnya.

Kuputuskan berhenti berhitung.
Dan mempertaruhkan sekali lagi, hati yang kupunya.
Mari bermain di batas mimpi, dimana surga dan neraka hati hanya terpisah sebuah janji.

Tak mengapa, mungkin karena inilah, Tuhan menyelipkan spasi.





Rabu, 08 Agustus 2012

Demi Masa


Bismillahirrahmanirrahiim. 
By the time, surely man is in loss. Except those who believe and do good, and enjoin on each other truth, and enjoin on each other patience (al-Ashr, The Declining day)

It hit me right where it hurts.


Sampai di titik ini, dan sampai sekarang aku tahu pasti, belum seujung kukupun aku sanggup mengamalkan ilmu ini. Dan tiba- tiba saja aku disergap ketakutan dan kesedihan yang maha besar. Kemana saja masa mudaku kusia-siakan? 

Aku manyadari satu hal, kalau perubahan itu pasti. dalam pola pikir, dalam kedewasaan, dalam kesabaran, tapi untuk sampai di titik dimana kita bukan termasuk orang yang merugi? membayangkannya saja aku tidak berani.
Ah, hanya bisa mengingatkan diriku sendiri. Seperti apapun kita merasa sampai pada titik yang paling baik, jangan berhenti. 
Menjalani hidup, jatuh, mungkin tersesat, mungkin hilang, tapi jangan pernah mencoba untuk tidak kembali. 
Aku cuma tahu kita semua punya satu tempat untuk pulang, dan kalau dalam perjalanan menuju pulang kita lupa jalan kembali, mau pulang kemana lagi? 

Seperti apapun masalah, akan ringan dijalani kalau kita kembalikan ke satu tujuan pasti. Dan prinsip ini, sampai sekarang aku masih mencoba menjalaninya. Masih perlu banyak berbenah diri, dan tentang iman yang turun naik ini, aku berdoa semoa Dia masih selalu membolehkanku datang. 




Pertengahan Ramadan. Semoga belum terlambat untuk membuka jalan pulang.