Langkah yang tergesa,
hati yang jatuh tiba-tiba,
dan sebuah ironi tentang semua yang pernah kuingkari.
Aku menandai diriku sendiri,
tentang syarat, tentang persona, tentang semua yang mungkin terjadi, kalau aku harus kembali ke sebuah siklus jatuh hati.
Bukan kesombongan, hanya sebuah janji kepada diri sendiri,
untuk berhenti sakit lagi.
Tapi, seperti semua cerita yang hanya mungkin terjadi di buku berwarna,
aku tersandung.
Dan semua dinding yang kukira kubuat dengan cukup kuatnya, merapuh jatuh.
Seakan semua masa sebelum titik ini, hanyalah sebuah tirai kasat mata.
Tuhan menyibaknya tiba-tiba, mungkin sambil tertawa.
Ah, Kamu yang selalu penuh canda dan rahasia.
Tuhan menyelipkan spasi, diantara kita.
Kamu menyelipkan waktu, diantara kita.
Dan aku menyelipkan sebuah doa, sekuatnya.
Kuputuskan berhenti berhitung.
Dan mempertaruhkan sekali lagi, hati yang kupunya.
Mari bermain di batas mimpi, dimana surga dan neraka hati hanya terpisah sebuah janji.
Tak mengapa, mungkin karena inilah, Tuhan menyelipkan spasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar