Kalau nanti aku berhenti menulisimu,
mungkin aku bukannya mau.
Hanya saja,
semua tanya adalah pintu yang membuka,
Jendela kaca yang memperlihatkan sisi lemah kita.
Dan mungkin, aku bosan menulisimu dengan kata-kata yang...
saat kubaca kembali, hampir tak kukenali siapa penulisnya.
Sudah, sudah,
jangan lagi kita bertanya dan merasa..
Kadang memang,
butuh beratus kali tersungkur dan bangkit dan tersungkur dan bangkit,
sampai akhirnya mengerti,
bahwa hati bisa mudah dibuka...
dan ditutup...
dan dikunci kembali.
Cinta yang sakit dan biru itu, hanya akan terjadi sekali, dua kali.
Setelah itu, tinggal kamu dan sisa-sisa hatimu.
Percayalah, setelah itu semua kan lebih mudah.
Melupakan adalah mustahil,
seperti luka yang akan terus ada bekasnya.
Hanya bekas. Tapi sakit itu makin lama kan makin samar.
Nah, kamu, hatiku yang entah tinggal seper-berapa.
Pelan-pelan.
Jatuhlah pelan-pelan kali ini.
2 komentar:
Kalau melupakan adalah mustahil, anggap saja dia telah mati.
mengingatkanku pada masa lalu mbak.
Posting Komentar