Jumat, 24 April 2009

Pancanaka

Ini,ini kupinjamkan padamu.
Robek,robek saja hatiku.
Buraikan isinya di hadapanmu.
Lihatlah,lihatlah.
Apakah merah?
Biru?
Hitam?

Tak akan kautemu warna solid itu.
Karena dia lubang hitam,dengan spektrum warna tak bertepi.

Aku pun tengah terengah mencari asa,yang hilang entah di sudut mana.

Pancanaka,ya, pancanaka.
Hanya itu yang sanggup menembusi ari hatiku. Saat ini.

Final

Im done with love.
Maybe im just not so tough.

All this long,thinking that i am the smartest.
Turns out that i am just the dumbest.

Im done with grieving.
And so to you,agonizing.

So eager to be in eternal damnation,
im off for another heart transaction.

Got nothing to sell,
mine is shattered into thousand cells.

So im done with love.
Curtain's closed,and id say 'enough'.


Goodbye,pieces.
Blow my ashes..

Jumat, 17 April 2009

pristine

Kemarilah,
dan peluk aku sekali lagi
Agar dapat kubawa pergi bersama ingatanku,
yang sedikit demi sedikit merembes keluar.
Bersama Tekadku untuk hidup dan bertahan.

Letakkan tanganmu disana, tak mengapa.
Bukankah sudah pernah kau miliki aku seutuhnya?
Bersama Bintang, bulan, seribu janji?

Berhenti bertanya dengan mata dan bibirmu,
diam dan diam dan diamlah saja, kumohon.
Sekali ini.

Peluk aku,
dan cabut nyawaku.
Saat aku mengingatmu seperti ini.
Hangat, dekat, dan hidup.

now..

Kadang kadang, gw pengen berhenti, bener bener berhenti. Stop thinking, stop doing anything, stop. Just totally stop.

There are times when u feel like you’re okay, really okay, dan saat ternyata kita sadari bahwa semua yang kita pijak adalah kerapuhan semata.. ice lake.. how do we getback?
Mempercayai sesuatu, menjalani hidup sebaik baiknya, untuk kemudian menemui yang namanya sakit, pahit, trus.. u just feel so tired. And wanna stop.
I dont know, bukankah semua manusia mengalami yang namanya cobaan? Dan bagaimana overcome cobaan itu kan yang menentukan nilainya sebagai manusia? I know. God, iya gw tau, kita harus berpaling pada yang punya kuasa. Easy to say.
Sejujurnya, saat ini gw lagi berpaling pada Green Day. Secondhand Serenade. The Fray. Linkin Park. I know. Iman gw lagi down banget. Gw sholat karena gw tau harus sholat.
Dan gw bingung. Ngrasa kayak mayat hdup kalo lagi sholat. Duh gusti, tolong hambamu ini. Kalo emang bisa, could you just kill the feeling inside?
Feel like im dying inside. Dying. Gw udah lupa gimana rasanya tenang, benar benar tenang. Mengingat rasanya bersama seseorang, diam, sharing the silence together yet still feel like having the best conversation ever.
Berada di dalam satu ruangan itu, mendengar nafas masing masing, kadang saling ngliat, senyum, untuk kemudian kembali diam. The only person that makes me believe all this long. Apa itu namanya? Nyaman, iya, nyaman. Sungguh gw merindukan masa masa itu.
Gw ga peduli mu dibilang cengeng atau berlarut larut atau apalah, im not okay, im not okay dan im really not okay. So why should i pretend like im okay while im not?
Saking gilanya, kadang gw sampe mikir, what can of pain that can overcome this? Even having an asthma couldnt make you forget. Cuma bisa diem dalam kamar, ngrasain, menikmati rasa sakit itu, menikmati tiap nyeri yang ditimbulkan dalam dada, tiap kita menarik nafas atau ngebuang nafas. Ngrasain air mata itu yang leleh tiba tiba tiap mengingat hal hal kecil yang jadi trigger. Endless coming of pain. Dan menanti, kapan bakal berakhir serangan serangan ini. Just to find your self awake in the morning dalam keadaan nangis (lagi) dan sakit. Tetep.
Menjalani hari harimu, dengan sempoyongan,tanpa kesadaran, Melakukan tanpa tahu kenapa, harus gimana, dan kemana. U just know that u have to do it. Or ull forget about living this life. Banyak banget yang sayang ma gw, dan banyak yang bakal kecewa kalo gw berhenti berusaha hidup. Tanpa mereka tau, bahawa buat bernafas dan berpikir pun, gw mati matian.


tapi bukankah, there will always be an answer for everything?

Rabu, 08 April 2009

Defect

Sayang, hari ini aku mengakui padamu,
aku tak pernah setia.
Dalam hatiku.

Dari awal.
Ada dia, untuk semua pahit manis senyum luka yang menggurat lama disana.

Ada dia, yang dari awal mula pertama aku mengenal cinta, hadir dan setia.

Ada dia, yang terkasih, yang selalu membuatku tertawa.

Hatiku bukan satu saat ini, sebenar benarnya. Dan seperti
anomali lainnya, dia hanya akan menimbulkan tanya,luka, dan ragu.

Inilah aku.
Sebenar benarnya.
Defect.