Di pangkal lidah,
ada rasa yang tertinggal dan tidak bisa kuenyahkan.
Seperti baal.
Pahit yang entah sajak kapan bercokol di sana.
Di pangkal lidah,
ada pahit yang membekas.
Dan beratus kali kucoba menghapus,
tetap saja rasa itu tinggal dan menolak hilang.
Bekas.
Pahit.
Seperti polusi rasa yang mengganggu, kamu tahu?
Seperti semua rasa yang kaucecap setelah itu tidak sama lagi.
Dan kamu perlahan lupa seperti apa rasa sebenarnya.
Maka kamu belajar melupakan kalau itu bukan bagian dari indramu.
Dan kamu belajar menerima.
Mencecap rasa, dengan satu rasa yang kamu tahu ada di pangkal lidah.
Merasakan bahwa, semanis apapun dunia, ada pahit yang tinggal di benakmu,
dan kamu tahu, tak akan pernah bisa menghapusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar