Ya Allah serius banget ya judul postingan kali ini. Hihihi.
Jadi, beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan buku berjudul The Edible History of Humanity. Salah satu bab dalam buku itu menjelaskan bahwa makan yang saat ini kita makan, yang berasal dari alam, sesungguhnya adalah bentuk kecacatan dan mutasi yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Take an example, wortel. Wortel yang kita kenal saat ini berwarna oranye dengan rasa yang sedikit manis. PAdahal, wortel liar sebenarnya berwarna...ungu dan putih. Seperti bit dan lobak. wortel yang berwarna oranye saat ini adalah hasil rekayasa genetika untuk mebuat rasanya menjadi lebih manis. Jadilah wortel yang kita kenal saat ini berwarna oranye.
Jagung yang direkayasa agar bertongkol dua, bahkan tiga.
Padi yang direkayasa agar bulir-bulir padinya kuat menempel meskipun terbawa angin.
Gandum yang direkayasa agar selubung bijinya mudah dilepaskan.
Tidak berhenti sampai di situ, manusia juga memanipulasi waktu tumbuh tanaman agar memastikan ketersediaan pangan sesuai dengan kebutuhan manusia.
Human turned from hunter into farmer.
Dari segi manusia, domestikasi ini mungkin menguntungkan, tapi dari segi tanaman, semua sifat alami itu membuat mereka tergantung kepada manusia. More convenient food, less resilient plant.
Domestikasi tanaman ini ternyata membuat manusia menjadi lebih lemah. Ilmuwan menemukan bahwa manusia yang hidup dengan berburu memiliki fisik yang lebih kuat daripada manusia yang hidup dengan bertani dan memakan makanan dengan jenis terbatas.
Basically, back then when we were still living in a cave, eating whatever nature gives us... we were much healthier. And then, people started to notice that by piling food, they have more power. Keharusan berbagi makanan, egalitas dan semua kewajiban saat hidup nomaden dan berburu hilang saat manusia mulai menetap dan bertani. Manusia mulai menginginkan barang, sesuatu yang lebih yang tadinya tidak bisa dimiliki saat harus hidup berpindah-pindah. Food was once a powerful barter tools. We produce food more than we could eat, thus we exploit nature, turn it into somekind of crippled organism, squeeze it until the very last drop.
Nowadays, it's not only about food. Kita mengeksploitasi semua yang kita bisa. Logam. Minyak. Kayu. Gas Bumi. Tanah. Pasir. Air. Bukan karena kita butuh, tapi karena sebagian kecil dari manusia tidak dapat memuaskan ketamakan. They still want more. Health, power, money, over another people, whatever you can get.
And it's frightening. Human is frightening. Ilegal logging, mining without land reclamation, genetics mutation. We build the castle of gold on a pile of ashes. And i wonder, how long we will survive from nature's wraith.
Manusia memanipulasi alam, dan alam dengan segala keajaiban dan kemampuannya untuk menyeimbangkan diri, beradaptasi pada perubahan tersebut. Come to think of it, nature only reacted to the change. To the damage made by human. Saat ini, sudah mulai banyak manusia yang peduli lingkungan. Kembali ke pola hidup sehat, organik, bertanam sendiri di rumah... and i think that's good. I just hope that it's not too late.
As for me, i have to admit that i dont really do so called eco-green living. But i try. I dont litter, i sleep with the light off, i use water as little as possible, and hopefully, i can add another good habits to help preserve the nature.
"Earth provides enough to satisfy every man's needs, but not every man's greed"- Mahatma Gandhi.
2 komentar:
serem ya...
para manusia manusia serakah yang gemar sekali mengunyah.
sungguh bumi yang malang.
:|
Bukunya keren. Tulisan blognya juga keren :D
Kadang saya mengkhayal surga itu tempat kita bebas ke mana saja. Mengunjungi tempat-tempat baru tanpa khawatir diusir, sakit dan kehabisan makanan. Persis seperti orang nomaden yang berburu pada zaman dulu.
Posting Komentar