And i had him. For a while,but i know that ill have more than that.
Dulu, waktu saya masih kuliah, saya kenal seseorang yang incredibly kind,generous, funny. Not to mention that he's good looking.
For instant,we dated. We took it very seriously. Or not.
Karena,pada akhirnya kita menyerah pada obstacle yang dulu pernah kita remehkan. Jarak.
Salah seorang teman pernah berkata,anak STAN yg pacaran tu,kalo dah lulus,ada dua pilihan. Kalo g merit,ya putus.
I was laughing.
Karena saat itu,kami tahu kami belum siap. 20 nyong. Bukannya merit itu g bgs ya. We both just know we weren't ready yet.
Setelah lulus,saya kerja di BPK,dia di instansi tmennya BPK,kita sm2 di Jakarta..
It just went well.
Kita sering ketemuan. Menjelajah Jakarta, ngetawain tmn2 kita yang nikah terlalu cepet,ngukur jarak, memperkaya supir taksi TL, nonton premiere, makan kari di Blok M, naek busway dr ujung ke ujung, maen ke Dufan berdua.
We did silly things. We laughed. We was happy.
But the bomb was ticking.
Sebagai anak STAN,kita tau kita bkal dtempatin entah dmana.
Penempatan dia keluar pertama.
Banjarmasin.
Saya ingat mengantar dia ke bandara.
I wasnt crying when he pointed my cheeks and potted me at the head. He smiled. So i smiled.
But i was when his plane took off. He left me. I was alone. Saya ingat makan di bandara,di bangku, pipi saya banjir dan diliatin orang but i didnt care. It scared the shit outta me.
Saya terbiasa ada dia. Now,what am i supposed to do?
Setelah itu,saya ditempatkan Surabaya,but it wasnt getting better.
Kita mulai jalani jarak jauh. Biaya telpon dan kantong mata yang membengkak, kelelahan.. Dan hati yang melayu pada jarak.
Dan dia terlalu menyayangi saya untuk bertahan disisi saya dan melihat saya berubah jadi dingin,sinis,dan apatis.
We ended up separated.
Jarak. Jarak. Jarak.
Blame it to the spaces. To thousand miles between us.
Saat saya sadari,yang ada di antara kami bukanlah jarak ratusan mil diantara saya dan dia.
Tapi jarak antara saya dan dia. Saya berhenti bercerita tentang hidup saya. Saya bilang,this is how i survive our relationship. Bertahan tanpa kamu. Handle semua masalah saya. Sendirian. We started not 'talking for hours'. Bahkan,saya dan dia tidak pernah telpon lebih dari 1 jam. Setengah jam.
Dan dia mengikuti saya. Dia tak lagi menuntut saya untuk ngasi kabar,he knew me too well.
Saya menyerah pada jarak, dan jalan sendirian.
He deserved better than me.
Heart breaking time is over.
Saya baik baik saja.
Akan susaaah menemukan orang seperti dia. Tidak ada. He's just too special to be someone pass me by. And if it takes years to heal the pain,ill fuckin do. Ill wait,patiently.
Posisi dia belum,dan insyaallah tidak terganti.
Waktu temen temen kantor ngerjain dan ngejodoh jodohin saya,saya ketawa. Waktu sahabat saya denger kabar saya jadian,saya ketawa.
Eh gak ding,marah juga.
Dia berlalu,saya berlalu.
Kami baik baik saja..
Mungkin,suatu saat saya dan dia bisa ketemu lagi. Dan menertawakan jarak yang saat ini menertawakan kami.
3 komentar:
kenapa mesti meyerah vi..
aku tau siapa cowo itu vi..
he2..
someday u'll know that he's the one for u..
semangat vi..
hiiiii...jadi takut sama jarak nih...should i find someone else di Jakarta sono...sigh, mana ada yg mau lagi?
Posting Komentar