Jumat, 18 November 2011

Kamu

Pernah sekali waktu kamu sangat cemburu pada ia yang bercokol begitu kuat dan lekat dalam ingatan, seperti aku mati beku dalam kenangan dingin tentangnya.

Kamu itu mentari, seperti pelan menghangatkan dan cair semua tentang dia, jadi kamu yang pijar dan memeluk lembut kulit kulit yang biru. Aku, kamu, pernah seperti itu.

Kamu menyembuhkan apa yang pernah kukira tergurat begitu dalam sampai aku takut, tak bisa lupa. Sesungguhnya, saat ini kamulah penguasa tiap sel kelabu di otakku, pijar syaraf di hatiku, ruang ingatan yang entah tersambung dengan apa di hatiku, karena tiap ada namamu, ia bergelenyar.



Kalau saat ini kubilang musim hangat itu telah lama berlalu, apa kamu percaya kalau saat ini aku menolak hipothermia?
Kamu masih pijar, masih membakar.
Dan aku ingin jadi burung api itu, kaubakar habis sampai tak bersisa lagi semua kenang tentang kita.

Mencintaimu setulusnya, sekuatnya,
sampai hilang semua benci, tetas jadi keikhlasan untuk melihatmu pergi.



Menahun, ku tunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini ku harap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku

Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu
Rasa sakitku

Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran
Pedih adanya
Namun ini jawabnya

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera

Sadari diriku pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata

Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini
Tapi rasakan semua
Sebelum kau kulepas selamanya

Tak juga kupaksakan
Setitik pengertian
Bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera

Dan kini ku berharap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku

(Dee Lestari-Peluk)







2 orang meong meong:

Re_Notxa mengatakan...

Kamuuu....

*nunjuk David Bekam (versi pengobatan arab)

dmz mengatakan...

ndut...