Baru terasa saat tidak merasa apa-apa.
Lalu satu dua mengetuknya, kadang memukulnya keras sekali.
Dan bisa kulihat siapa yang paling terasa dentumannya.
Mereka yang kadang sudah ada di dalamnya.
Aku ambil acuhmu di atas pura-puramu, selalu.
Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Saat ini runtuh sesekali batunya.
Aku takut, karena kadang runtuhnya gemuruh.
Dan aku tenggelam lama sekali di dalamnya.
Kubayangkan lagi membangunnya....ah.
Aku ambil acuhmu, di atas pura-puramu, selalu.
Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Sesekali kubuka agar berganti udara, air, semua luka di dalamnya.
Di dalam sini, tidak ada merah bata menjulang yang kupasang di luar tembok raksasa.
Hanya ada lekang dan sepi yang menjerit-jerit memekakkan.
Bahkan aku takut melongok ke dalamnya.
Aku ambil acuhmu, di atas pura-puramu, selalu.
Tapi aku bahkan berpura-pura.
Lama aku lupa tembok merah bata itu milikku. Aku lupa kosong dan nyeri di dalamnya.
Aku mau lupa mengetuk dan membukanya.
Aku mau meninggalkannya jauh di dalam sana.
Hanya saja, aku lupa kalau sebagian besar hatiku, terkurung di dalamnya.
Apa berani, aku merasa?
Apa sampai disini saja, aku pura-pura?
2 komentar:
pondok kecil itu kayu.
kursi baca di terasnya akan tetap disana, sampai engkau tertidur, nanti...
biru...ikuti saja. disana bahagiamu. mungkin. B.
Posting Komentar