Kamis, 07 Agustus 2014

God is an idea. God is an idea?

“God is dead.  God remains dead. And we have killed him. Yet his shadow still looms. How shall we comfort ourselves, the murderers of all murderers? What was holiest and mightiest of all that the world has yet owned has bled to death under our knives: who will wipe this blood off us? What water is there for us to clean ourselves? What festivals of atonement, what sacred games shall we have to invent? Is not the greatness of this deed too great for us? Must we ourselves not become gods simply to appear worthy of it?”
Quote Nietzche itu kubaca malam-malam saat aku membuka salah satu posting Mbak Siska di Path. Great minds think alike ya..*dikaplok*, karena siangnya baru aja aku kepikiran tentang the idea of the God itself. Neil Gaiman dalam buku American Gods menceritakan tentang Tuhan-tuhan yang kuat dan hidup dari kepercayaan manusia. The more you believe about Gods, the stronger they are. In some twisted way, God exist because we believe they exist. Once the idea of God is forgotten, they cease to exist in reality.
Dan aku merasa kalau hal itu benar, terlepas dari apapun kepercayaan kita, Tuhan adalah sebuah ide maha raksasa yang karena dipercayai secara massal, maka dia hidup. Terlepas dari mukjizat-mukjizat dan bukti yang membuktikan kalau itu ada, Tuhan adalah bagian dari sejarah. Manusia menulis tentang Tuhan. Dalam buku, dalam kisah, dalam epos, dalam puisi, dalam apapun itu. Dan dari generasi ke generasi, kita menjaga dan memastikan bahwa Tuhan tetap hidup. Baik itu lewat jalan damai maupun jalur pemaksaan, the love you have to your God pushes you to keep Him alive. And so God live thru us. Kita adalah lidah Tuhan, Kita adalah tangan yang menuliskan Tuhan. Kita adalah perpanjangan Tuhan. Tuhan butuh kita untuk meneruskan dia, menceritakan kisahnya, mendakwahkan ajarannya.
Dan kita butuh Tuhan. Alasan kita memang berbeda-beda untuk memeluk agama, but I say, I need my God. In a chaos, God is something bigger that life itself, and you need that. You need an idea that there’s something bigger than life that awaits you, atones your sins, rewards you for every kindness with absolute justice. God will always be there to catch you, because God will never fail us. Dan dalam dunia yang kacau dan penuh dengan hal-hal yang menyakitkan, Tuhan adalah sesuatu yang absurd in the best way. Invisible anchor that gives you peace. God is the highest law, because let’s face it, the idea of good and evil came from an old idea of God and the Devil. Dan Tuhan alu diterjemahkan menjadi sebuah agama. Karena Tuhan dating dalam ajaran, kepercayaan, dogma.
Tapi, Tuhan juga bisa jadi sebuah alasan untuk berbuat kejahatan. Selain ekspansi damai yang dilakukan Budha, sejarah menceritakan bahwa beberapa agama melakukan banyak hal untuk menyebarkan agama mereka, dan nggak semuanya dilakukan dengan jalan damai. People do kill for religion, for the idea of God itself. And it’s frightening. Karena ketika kita membenarkan kekerasan atas nama Tuhan, lalu apa yang kita punya untuk menjaga kedamaian?
Lennon berpikir bahwa tanpa agama, dunia akan lebih damai. Lennon mendambakan Utopia, dimana semua manusia adalah sama tanpa ada pembeda. I say, yeah, because world of nihilism surely will lead you into total peace. Kalo kata temen, Lennon udah masuk majalah hidayah “Seorang Musisi Kuburnya Dipenuhi Pita Kaset Rusak Karena Tidak Percaya Tuhan”.
Kembali lagi pada ide bahwa Tuhan adalah sebuah ide. Kalau kita dan kesadaran kita memutuskan bahwa apa yang kita lakukan salah atau benar, bukankah hal yang paling mudah adalah mengambil the doubt of the benefit? Take the best of the idea itself and live it thru your conscience, act by it. Jadilah pemeluk agama dan Penerus Lidah Tuhan yang baik. In a world where life is nothing but a number of casualties written on a news, our conscience and our act of kindness is what makes life worth living for other. Tuhan seharusnya adalah sesuatu yang indah dan terang, mengapa harus kita gelapkan? Kalau Tuhan bisa mengeluarkan yang terbaik dari kita, ya tetaplah di jalan itu. I  don’t live fully to my religion, because….well I just don’t. Bukan karena aku tidak bisa. Tapi dalam beberapa hal, aku merasa bahwa agama adalah bahasa yang kita terjemahhkan dalam kehidupan. Agama adalah kesadaran. Apapun agama yang kamu pilih, kamu memilih sesuatu yang paling membuatmu damai, sesuatu yang paling membuat kamu tenang. Maka terjemahkan agama dan tuhanmu dalam kebaikan. 
               

Those who believe that they believe in God, but without passion in their hearts, without anguish in mind, without uncertainty, without doubt, without an element of despair even in their consolation, believe in the God idea, not God himself. Miguel de Unamuno 

Tidak ada komentar: