“God is dead. God remains dead. And we have killed him. Yet
his shadow still looms. How shall we comfort ourselves, the murderers of all
murderers? What was holiest and mightiest of all that the world has yet owned
has bled to death under our knives: who will wipe this blood off us? What water
is there for us to clean ourselves? What festivals of atonement, what sacred
games shall we have to invent? Is not the greatness of this deed too great for
us? Must we ourselves not become gods simply to appear worthy of it?”
Quote Nietzche itu
kubaca malam-malam saat aku membuka salah satu posting Mbak Siska di Path. Great
minds think alike ya..*dikaplok*, karena siangnya baru aja aku kepikiran
tentang the idea of the God itself. Neil Gaiman dalam buku American Gods
menceritakan tentang Tuhan-tuhan yang kuat dan hidup dari kepercayaan manusia.
The more you believe about Gods, the stronger they are. In some twisted way,
God exist because we believe they exist. Once the idea of God is forgotten,
they cease to exist in reality.
Dan aku merasa
kalau hal itu benar, terlepas dari apapun kepercayaan kita, Tuhan adalah sebuah
ide maha raksasa yang karena dipercayai secara massal, maka dia hidup. Terlepas
dari mukjizat-mukjizat dan bukti yang membuktikan kalau itu ada, Tuhan adalah
bagian dari sejarah. Manusia menulis tentang Tuhan. Dalam buku, dalam kisah,
dalam epos, dalam puisi, dalam apapun itu. Dan dari generasi ke generasi, kita
menjaga dan memastikan bahwa Tuhan tetap hidup. Baik itu lewat jalan damai
maupun jalur pemaksaan, the love you have to your God pushes you to keep Him
alive. And so God live thru us. Kita adalah lidah Tuhan, Kita adalah tangan
yang menuliskan Tuhan. Kita adalah perpanjangan Tuhan. Tuhan butuh kita untuk
meneruskan dia, menceritakan kisahnya, mendakwahkan ajarannya.
Dan kita butuh
Tuhan. Alasan kita memang berbeda-beda untuk memeluk agama, but I say, I need
my God. In a chaos, God is something bigger that life itself, and you need
that. You need an idea that there’s something bigger than life that awaits you,
atones your sins, rewards you for every kindness with absolute justice. God
will always be there to catch you, because God will never fail us. Dan dalam
dunia yang kacau dan penuh dengan hal-hal yang menyakitkan, Tuhan adalah
sesuatu yang absurd in the best way. Invisible anchor that gives you peace. God
is the highest law, because let’s face it, the idea of good and evil came from
an old idea of God and the Devil. Dan Tuhan alu diterjemahkan menjadi sebuah
agama. Karena Tuhan dating dalam ajaran, kepercayaan, dogma.
Tapi, Tuhan juga
bisa jadi sebuah alasan untuk berbuat kejahatan. Selain ekspansi damai yang
dilakukan Budha, sejarah menceritakan bahwa beberapa agama melakukan banyak hal
untuk menyebarkan agama mereka, dan nggak semuanya dilakukan dengan jalan
damai. People do kill for religion, for the idea of God itself. And it’s
frightening. Karena ketika kita membenarkan kekerasan atas nama Tuhan, lalu apa
yang kita punya untuk menjaga kedamaian?
Lennon berpikir
bahwa tanpa agama, dunia akan lebih damai. Lennon mendambakan Utopia, dimana
semua manusia adalah sama tanpa ada pembeda. I say, yeah, because world of
nihilism surely will lead you into total peace. Kalo kata temen, Lennon udah
masuk majalah hidayah “Seorang Musisi Kuburnya Dipenuhi Pita Kaset Rusak Karena
Tidak Percaya Tuhan”.
Kembali lagi
pada ide bahwa Tuhan adalah sebuah ide. Kalau kita dan kesadaran kita memutuskan
bahwa apa yang kita lakukan salah atau benar, bukankah hal yang paling mudah
adalah mengambil the doubt of the benefit? Take the best of the idea itself and
live it thru your conscience, act by it. Jadilah pemeluk agama dan Penerus
Lidah Tuhan yang baik. In a world where life is nothing but a number of casualties
written on a news, our conscience and our act of kindness is what makes life
worth living for other. Tuhan seharusnya adalah sesuatu yang indah dan terang,
mengapa harus kita gelapkan? Kalau Tuhan bisa mengeluarkan yang terbaik dari
kita, ya tetaplah di jalan itu. I don’t live
fully to my religion, because….well I just don’t. Bukan karena aku tidak bisa.
Tapi dalam beberapa hal, aku merasa bahwa agama adalah bahasa yang kita
terjemahhkan dalam kehidupan. Agama adalah kesadaran. Apapun agama yang kamu
pilih, kamu memilih sesuatu yang paling membuatmu damai, sesuatu yang paling
membuat kamu tenang. Maka terjemahkan agama dan tuhanmu dalam kebaikan.
Those who believe that they
believe in God, but without passion in their hearts, without anguish in mind,
without uncertainty, without doubt, without an element of despair even in their
consolation, believe in the God idea, not God himself. Miguel de Unamuno
Tidak ada komentar:
Posting Komentar