Masihkah kamu ingat obrolan kita?
Tentang rumah kecil sendu di tepi bukit?
Mungil, sederhana, dan bahagia dalam soliternya?
Rumah itu,katamu,
akan jadi tempat bersandar.
Saat dunia terlalu bising dan riuh,dan melelahkan.
Rumah itu, ceritamu sambil berbinar,
akan jadi tempat pulang.
Pada dindingnya ada cinta.
Pada pintunya ada tawa.
Pada retak retak kayu di lantainya,ribuan rasa siap menyapa.
Di luar,
ilalang,angin dan gemericik air berebut memuja..
Langit biru,teduh lembayung senja dan rimbun pohon,entah lamtoro,cemara juga bunga kenanga..
Dan ribuan buku.. Ribuan kisah! Ribuan mahakarya akan jadi interior penguasa..
Satu,dua, tiga ekor kucing biarkan saja.
Bagiku,akan makin sempurna.
Dengan anak anak, sebuah kisah sederhana.
Tentang kami menantang nikmat dunia. Bukankah surga terbaik diatas semuanya?
Menempuh hari tua dengan puja dan dzikir kepadaNya.
Lalu,lalu,
saat tiba saatku menutup mata,
ada Dia dan dia yang paling kucinta.
Ah sahabatku,masihkah sama impian kita?
4 komentar:
suuukaa, sigh...senang, damai rasanya jika bisa ngewujudi itu...huhuhuhu
Tiap orang punya wacana kecil tentang impian ya? hihihihi.....kalo saja kita bisa jd sutradara hidup kita.Namun lebih beruntung lagi,Sutradara ini lebih jago tentuin alur hidup. Alhamdulillah...
puisinya bagus-bagus..
oya, udah saya link blognya.. link back yah,..
@PErez : samaaaa.. senang yaaa..^^
@Nora : huaaa sayang.. amin, apapun dijalanin yang bener yaa..
@Saidilhady : makasih.. iya, nanti saya linnk balik, insyaallah,.. sabar yaa..
Posting Komentar