Minggu, 22 Agustus 2010

Padang senja

Sepi itu datang menggigit dan mencekam dalam keindahan semu.
Bulan tua di padang senja.
Indah, bulat menggoda pada rantai bintang selaksa.

Bulan berteman bintang, katamu?
Itu dusta, sepalsu palsunya,
karena pada bilangan angkasa, mereka berjarak sejauh jauhnya.
Kerlip itu sekedar nyala mati yang muncul di sudut hati.
Dan kita di bumi memandang lukisan semu, memuja dan membingkai bulan dan bintang itu dalam rangkaian kata.
Tanpa memahami nyeri yang mungkin muncul pada diamnya bulan.

Entah kenapa, malam ini aku sedikit mengerti.
Maka pada diamku,
aku doakan bulan malam ini.
Bertahanlah dalam orbitmu,
berputarlah dalam indahmu.

Karena sepi nyeri sendiri itu, sesungguhnya telah kaubagi pada kami.
Yang jeri sendiri melihat merahmu,
diammu di padang senja.

Kukirim peluk, teriring kecup.
Semoga sampai hangatnya ke singgasana langitmu.




1 komentar:

Re_Notxa mengatakan...

Dia yg sedang duduk di Arsy. Mengamati... :)