Pulang.
Bukankah mudah saja adanya?
ambil kereta pertama, paling pagi,
menunggang kabut menumpas kerinduan yang buncah berminggu minggu.
Meretas angan untuk berpeluk dengan empunya rahim yang meminjamkan nyawanya padamu.
Pulang.
Bukankah mudah saja adanya?
Pesan penerbangan pertama,
di atas awan mempersingkat jeda, untuk cepat cepat menapak bumi,
bertemu lelaki yang meneteskan genetiknya padamu, atau dia yang merawatmu, atau dia yang selalu kaupanggil ayah dalam mimpimu.
Pulang.
Pada anyir bau kencing kucing di halaman belakang,
Pada pohon belimbing tua, di dahannya tercetak kakimu, panjatan pertamamamu.
Pada sumur tua, di baliknya barak rahasia, tempatmu dan kakakmu menyembunyikan gula gula.
Tapi bagiku,
mungkin lain lagi persoalannya.
Kau tahu?
Aku pulang menyeberangi ketakutanku sendiri.
Sesak yang menggenang sampai mencekik, menyelubungi alveoli.
Pulang.
Pada hitam yang belum tuntas.
Pada onak yang siap menghempas.
Pada hampar debu, tempatku siap menjura berurai airmata.
Pulang.
Kerinduan ini menarikku datang.
Kalau sampai layu nanti kakiku, tumpah airmataku, mohon ampunan duh Gusti..
Sungguh apa yang bertubi tubi ini hamba mungkin belum siap menjalani...
4 komentar:
emang mantanmu ada yg di malang juga ya? (minta dikepruk)
vio... sini2 peluk... eh blog-ku baru lho...
Ayo,muleh malang,mak.
*mewek*
Eh, vi...
Jangan mau ya kalo dijodohin...
*kalem*
Posting Komentar