Senin, 27 Desember 2010

Tuhan Berpuisi

Tuhan tersenyum dalam lengkung pelangi.

Ditegurnya kita dalam lamunan panjang sesudah hujan.

Ini senyum, kata Tuhan.

Bukankah itu adalah apa yang terpahat di wajahmu dan sesungguhnya tak akan kaulupa?



Tuhan tertawa dalam senja yang merah.

Saat matahari menyerah pasrah dipelum kelam,

dan gelak siang masih terngiang sampai jauh, jauh.

Ada hangat yang kuat saga, bahkan dalam ketergesaan menuju hitam yang hilang.



Tuhan menangis dalam hujan yang panjang,

tentang rintik yang turun sampai berhari hari.

Menenggelamkan kota, manusia, Tuhan menelan dalam kasih yang mungkin tidak kita pahami.

Tuhan memeluk kita lewat malam yang panjang,

dingin menggigit sampai ke sumsum tulang.

Dengan gigil paling beku, meniupi syaraf yang paling kaku.

Dan kita geming dalam selimut hangat, bicara tentang mimpi yang kunjung reda.

Tuhan menunggu kita bangun dan memeluknya kembali.



Tuhan berpuisi dalam lidah alam.

Kau tahu,

terkadang kita beruntung mendengarnya dalam diam,

dalam pasrah sumarah saat hati ada dalam gelisah.

Bahkan mungkin kita mendengarnya dalam kosong yang panjang menjeda,

saat gemerlap lampu kota menelan warasmu,dan alkohol perlahan memburamkan sadarmu.

Mungkin juga, kita pernah terpaku, saat ada hangat yang menyelusup dalam kalbu,

Lalu kita diam, menengok kebelakang, mencari suara entah apa.

Yang meminta kita untuk berhenti.



Tuhan berpuisi,

dan aku masih sama seperti yang sudah sudah,

menengadahkan kepala memasang telinga,

mencari frekuensi hati paling hakiki,

ingin beruntung mendengarnya.

5 komentar:

Ariza mengatakan...

:')

yoan mengatakan...

vioo... ajarin aku bikin puisi... :(

Vio mengatakan...

@Icha : :)
@Yoand : walahh.. gimana ngajarinnya? cb ditulis aja apa yang dirasain, tapi dipilih kata katanya.. :D

ciptanirmala mengatakan...

waw puisinya bagus... komenin balik puisi2 di himajinasi himangel dunx... sankyuu...

lulabi mengatakan...

bagus :D
salam kenal..