Selasa, 21 Juli 2009

Leftover

Fajar menjelang.
Buat kita,cinta adalah buta,
meraba,saling bergandeng,dan dalam gelap saling mengenal masing masing.
Nafas. Suara. Suhu. Aroma. Tiap lekuk adalah pertanda.
Tiap sudut adalah penanda.
Cinta adalah sentuhan untuk mengenal.

Pagi menyapa.
Mata kita terbuka.
Ada tawa,luka, dan warna yang,dulu, hanya kita bayangkan saja.
Matamu,wajahmu, dirimu, semua,
kureguk habis, perlahan kutera dalam memori,
aku takut lupa, sungguh takut lupa akan kamu.

Siang datang.
Panas,panas, panas. Terlalu terik semua, dan mata kita telah pedih, telah lelah saling menyentuh. Perang! Perang! Perang dan darah kita tumpahkan, pada pedang kata kata, pada panah curiga,
semua, untuk dapat saling menyakiti. Semua,untuk saling hancur.

Dan kala sore datang, aku terengah sendirian. Belum datang malam, belum datang siklus pagi kita, belum datang semua itu.

Apa yang tersisa adalah apa yang ada. Cabikan.
Percik darah.
Luka.
Keringat.





Hanya ada memori tentangmu yang sempat kutera, itu yang tersisa.

Esok hari, janganlah datang.
Malam ini, jadikan aku Grenouille, mereguk habis memorimu. Sampai tak ada sisa, sampai lupa.

2 komentar:

kriwul mengatakan...

wow... puisi yg bagus emg lahirnya dmasa2 sulit ya vio... hehehe... semangat neng, manfaatkan masa2 ini utk menjadi pujangga, coz as soon as a new love find you and heal your previous wound, you'll be selfless (to yourself) and selfish (to others. the only one you see is him) and you'll have no time (or no idea, or no trigger) to write such a beautiful romantic thing...

kriwul mengatakan...

ahahahahaha... aku sotoy deh tampaknya... maap vio...