Membaca ulang kisah kita sendiri itu rasanya seperti mimpi.
Kitq semua pernah jatuh, sakit, karam, patah, mungkin gak sedikit yang merasa cukup, muak, atau capek.
Gue pernah sayang seseorang, untuk patah, untuk sembuh, dan patah lagi. Gue pernah dihajar masalah, dibantu temen, dijerumuskan temen juga, banyak hal yang terjadi tanpa kita punya kemampuan untuk tahu sebelumnya, dan mungkin, menyiapkan hati.
Saat ini, gue nggak berada dimana mana.
Gue juga nggak tau, Gusti Allah mau bawa gue kemana lagi, tapi gue tau endingnya gimana.
Life is just a trip, a very long trip that you may not even realize that you are on one. Beberapa nyadar, beberapa lupa, dan beberapa bahkan clueless.
We're heading towards a thick mist, and we could only see what's left behind.
Im not, a good person, i know.
Banyak hal yang gue nggak banggain. kepleset berkali kali, belok, salah arah..
dan sejauh ini, i always try to find the way back, to the right path.
Karena, seperti sebuah perjalanan, yang perlu kita ingat adalah tujuan. Yang perlu kita ingat adalah ending perjalanan. Yang perlu kita ingat adalah arah. Yang perlu kita ingat, perjalanan ini cuma sebentar.
Dont get lost and end up in the ravine, eventually. Gue percaya, meskipun sekarang ibaratnya tiap kita ngrasa lagi jatuh, dan nggak kemana mana, kita bakal jalan kok. Kita bakal tau, nantinya. Dan noleh ke belakang sambil bilang, wow, i've been there.
And in the end, i dont wanna be but somebody who proudly say that i chose the right path..
Astaghfirullahalazhiim. Ingat.
Bukankah hidup hanya sementara?
There are things that remain the same, the place you will always come home to.
Jumat, 07 Oktober 2011
Jumat, 23 September 2011
Bali, finally.
Seperti mimpi.
Bali.
Tentang tawa dan semua isinya itu.
Ah, November, cepatlah datang.
Terima kasih pantai Padang Padang.
Jalanan Legian.
Kuta Boulevard.
Rumah mungil di Tukad Petanu.
Bangku pantai dan payung di pinggiran Sanur.
Mba Ska, Mas Ficky, Tami, Inul, Ardy.
+lanjut mimpi lagi+
Kamis, 15 September 2011
Pernah.
Seperti belitan tali kasat mata, genggaman tanganmu ada dan tiada.
Terkadang dalam biru ia melenakan aku, rindu yang mengalir seperti mata air yang tak kering di kemarau panjang, akan penggantimu yang kelak kupeluk selamanya.
Terkadang ia hitam jelaga, menggenggam hatiku sampai sesak, sampai lebur.
Rindu, sebuah cinta yang pernah muncul sekejap saja, untuk pergi dan meninggalkan gurat yang maha raksasa.
Aku, menunggumu, tak sudah sudah.
Minggu, 11 September 2011
Current.
Saya, sedang merasa sangat beruntung punya dua teman yang bernama Hafiz Rahman dan Rukma Pratista.
Banyak teman, yang bisa dibilang dekat, bisa dibilang sahabat, tapi dari mereka berdua ini, hampir tidak ada "noise" (istilah Hafiz) yang saya dapat dari berteman dengan keduanya. Tiap membaca blog mereka, sekedar chat, dan ketemu.. (yang sudah lamaaaa sekali nggak kejadian, karena sama2 sibuk) selalu ada yang bisa saya pelajari.
Fotografi, sedikit2, masalah gadget, sedikit2,masalah hidup, tapi yang paling bikin saya merasa beruntung adalah, alhamdulillah, mereke ilmu agamanya sama2 kuat, dan nggak menggurui.
Bagi saya, membaca blog2 mereka itu sering sekali menyentil tentang masalah hidup, masalah tentang bagiamana seharusnya kita hidup, menjalani hidup, dan tujuan hidup yang sebenar benarnya.
Selain itu, ada juga blognya ukhti kesayangan saya, Nora, yang kecantikan hatinya selalu bikin saya merasa hangat, hangaaattt sekali.
Ah kawan, kalian itu sering, sering sekali bikin saya merasa malu dengan isi blog saya sendiri yang isinya "mung ngersulo" thok. Naudzubillah.
Semoga, ada saatnya saya yang membawa manfaat bagi kalian. Untuk saat ini, matur nuwun sanget, kangmas kangmasku dan mbakyuku, banyak memberi pelajaran yang insyaallah saya nggak akan lupakan.
Jumat, 29 Juli 2011
Senin, 04 Juli 2011
SURABAYA!!
Loh. Tau tau sudah di Surabaya.
Loh tau2 saya Sabtu sudah menjelajah Malang malem malem ngopi di JDC dilanjut ngiterin Malang sambil kedinginan nyari Nasi Goreng Kediri yang dimasak pake areng dan kesohor enaknya.
Loh, tau2 saya sudah di tempat tidur, ngobrol sama mama sambil mijetin kakinya, cerita2 sambil ketawa dan .. tidur dalam satu selimut yang sama.
Paginya, bangun masih sambil mikir, pengen ke GI.
Pengen ke PIM, naek Trans Bintaro ah.
Pengen makan Spesial Sambel, siang kesana ah.
Saya sudah di Surabaya. Dan meskipun saya kangen banget ketemu gigi, paha senior dan anaknya yang cumik2 lucu, kangen keketawaan sama mahluk2 yang beberapa saat terakhir nemenin terus2an, kangen panas jakarta, kangen macetnya, kangen bengong di taksi, kangen pulang malem ngebuka portal ponjay sambil nunduk sedikit biar gak malu2amat sama satpamnya yang tiap hari liat saya pulang malem (pagi deng, diatas jam dua belas mulu)...
im pretty much happy. :)
Rabu, 01 Juni 2011
Celah.
Aku ingin jalan kaki keliling kota,
untuk mengecat celah hitam pada zebra cross agar putih semuanya.
Aku ingin jadi spektrum cahaya,
memenuhi semua ruang gelap dengan segenap daya agar tak ada lagi kelam.
Aku ingin jadi tawa, yang menyublim ke sudut hati paling rahasia,
dan memastikan tak ada lagi yang sedih diantara semua canda.
Memastikan tak ada ruang.
Dalam hatiku sendiri, celah yang mengkhianati waktu yang kubangun di hariku perlahan, pernah kuberikan untuk kaupatahkan.
Menghapusmu, selamanya.
Sabtu, 28 Mei 2011
Pinjam
Ini raga sekedar kaupinjamkan,
dari Kamu yang bernyawa, bertahta atasku.
Maka,
kalau sampai juga cabutan raga diujung entah tanganmu entah kakimu,
ijinkan aku mempertanyakan,
Tuhan, atasmu yang Maha Besar,
aku ini apa?
Melompat
Karena hidup seperti diperas dalam airmata,
yang mendadak muncul di pelupuk mataku,
mentertawakan kebodohanku sendiri,
yang lagi lagi,
jatuh dalam kecerobohan berulang.
Meniti logika untuk hidup selurusnya.
Ijinkan aku melompat,
di derai riak tawamu, yang tinggal gema di tepian thalamusku.
Jumat, 20 Mei 2011
Tersentuh.
Ada yang muncul tiap kali aku membaca kisah kisah yang tertulis dari hati, menghamba sampai jemari.
Pada huruf huruf itu kutemu perih, kadang haru, kadang tawa, tapi selalu biru yang paling memukulku.
Tiap kisah adalah tautan yang diijinkan sampai untuk ke hati kita, memaksa dengan kurang ajarnya masuk ke hati, tidak jarang menekan mata kita sampai berarir mata, lalu memaksa aku diam dan berpikir....
Hati.
Begitu rapuhnya kamu, mata membaca, dan kamu yang terluka.
Telinga mendengar, kamu yang pecah oleh pekak tanpa suara.
Fisik yang lelah, kamu yang dengan peluh berkesah.
Bibir yang bicara, kamu pula yang sesak, cekat dihimpit sesal saat kata itu menampar orang lain.
Tuhan, jaga hatiku, jaga hatiku, jaga hatiku.
Langganan:
Postingan (Atom)