Kamis, 02 Oktober 2014

Getting there?

There will never be a definite answer to this question...i guess

Sabtu, 27 September 2014

Kadang kita

Sempurna yang hanya di muka saja,
Lalu lelah dan berhenti menggali.
Diam di kedalaman yang itu saja.
Karena dasar entah terlalu gelap entah terlalu jauh.
Seperti kamu bilang cinta laut tapi sebatas neritik.
Seperti kamu bilang gila Beatles tapi sebatas Hey, Jude.
Sayangnya sebagian yang kamu pilih untuk sayang bukan kumpulan air maha raksasa, bukan juga empat pria Inggris yang mungkin tidak peduli pada fans karbitan.
Laut yang kamu pilih ini minta diselami, dan kamu cintai seisi-isinya, seperti kamu mabuk sampai mual sampai kamu muntahkan lagi. Tetap kamu tidak bisa berhenti minum.




You like something and you only stick to part of it that you really like.. It will be like eating chicken and you eat only the white meaty part and leave the skin, bone, and gizzards out of it. Chicken is awesome, but i won't settle with only chicken. Does it make sense?

Rabu, 24 September 2014

Life. Update.

As if, ada yang peduli kalo gue update masalah idup..

Gimana Padang?


Hehe. Basically, im a very simple person. Im not demanding nor pushy.. So far, as long as i have access to Internet and a cozy place to read, i can live peacefully. Dan Padang punya itu, jadi ya..gua mah sante sante aja.
Selama 2014 ini bisa dibilang (hampir) ga pernah maen ke laut. Maen sih, tapi ga ciblung, as in ga nyelem ato berenang..
They say that Sumbar has some beautiful beaches.. Itu bener sih. Minggu lalu baru banget dadakan ke Pantai Pesisir Selatan, pulau Cingkuai namanya. Namanya juga dadakan..dan gua ga tau kalo ke pantai, dan gua pake rok. Ke pantai. Iya. Dadah babailah ama yang namanya maen-maen di Pantai.
Rencananya sih mau maen ke Mentawai, tapi awal tahun. Kalo sekarang cuaca lagi nggak begitu bagus. Snorkel ama wetsuit juga ditinggal di malang pun. Bahasa gua kenapa begini banget. Yaudahlah ya.
Anyway, perubahan besar yang terjadi di Padang adalah..
Gua
Beli
Motor.



Jreng.

Emangnya bisa naek motor? Bisalaaah. Kalo Matic.
Dan kalo definisi bisa adalah motornya jalan. Jadi, apakah gua bisa naek motor? Obisaaaa, kan motornya jalan.
Minggu lalu nyobain bonceng temen kantor. Tapi yang dibonceng curhat di Path kalo deg-degan dan berasa naik Histeria dibonceng ama yours truly. Cih. I'll be taking her on my back again, soon. Sampe perasaan naek histeria berganti jadi perasaan naek odong-odong.
Yang penting, belajar aja naek motor terus, ye kan.



Udah ah. Udah malem, ikan bobok.

Rabu, 03 September 2014

Halo Padang

And they say that life is series of choices. I might disagree with that, but i already made the choice that now lead me to move out to Padang. The friggin capital city of West Sumatra. Sumatra. Su. Ma. Tra.
Do i have a say? Yes yes, some people in HR said so. They gave us this spread, some kind of form that lead us to believe that we have a say in our next transfer. So i wrote Medan, Lampung, dan Palembang as my Sumatran choices. And then i end up in Padang.
But then again, i have to be thankful because some of my friends end up in...much lonelier city. No mall. No cafe. No Pizza Hut. No KFC.

Am i sad? i safely say, that no, im not sad. Well, there were a liiiiiittle breakdown. But then i put on my big girl panties and all problems are solved. After all, i was the one who made a choice to work as one of auditors in so called supreme audit board. B friggin PK.
Excuse my ramblings, dear readers, i may sound like a babbling, bumbling band of baboons  (Hi, Fred and George!), and yeah i was bit pissed but all is right in the world of Viona Putri Siltavia.

Ok, Padang it is.
What can i say about Padang? Well, there are foods. There is this gulai lontong in my office's canteen that is so good i eat it 5 days in a row in my first week. Martabak Kubang. and dont get me start at the sinful Es Duren Gantinamo, oh you, a bowl of frozen devil, you. And then Nasi Padang, of kors.
But my dear friend, im sorry that im unable to broaden the adventure of Padang outside the terms of food, because this yours truly does nothing but veg out these days. Veg out. As in "Oh, look at that.. bed. Let's lie." and read. Nothing new.

But i do have this awesome room. With wooden floor, shower, wifi, red brick wall, big window, located in second floor, AC, nice queen size bed.... and those gigas of books... so, all is right, all is right.
Until i have another interesting things to tell, toodles from Padang!!







Jumat, 15 Agustus 2014

And then....

When the world is rushing in such pace you cant keep up, it's okay to take a break.
But not to surrender, because you know you are so much more.

Kamis, 07 Agustus 2014

God is an idea. God is an idea?

“God is dead.  God remains dead. And we have killed him. Yet his shadow still looms. How shall we comfort ourselves, the murderers of all murderers? What was holiest and mightiest of all that the world has yet owned has bled to death under our knives: who will wipe this blood off us? What water is there for us to clean ourselves? What festivals of atonement, what sacred games shall we have to invent? Is not the greatness of this deed too great for us? Must we ourselves not become gods simply to appear worthy of it?”
Quote Nietzche itu kubaca malam-malam saat aku membuka salah satu posting Mbak Siska di Path. Great minds think alike ya..*dikaplok*, karena siangnya baru aja aku kepikiran tentang the idea of the God itself. Neil Gaiman dalam buku American Gods menceritakan tentang Tuhan-tuhan yang kuat dan hidup dari kepercayaan manusia. The more you believe about Gods, the stronger they are. In some twisted way, God exist because we believe they exist. Once the idea of God is forgotten, they cease to exist in reality.
Dan aku merasa kalau hal itu benar, terlepas dari apapun kepercayaan kita, Tuhan adalah sebuah ide maha raksasa yang karena dipercayai secara massal, maka dia hidup. Terlepas dari mukjizat-mukjizat dan bukti yang membuktikan kalau itu ada, Tuhan adalah bagian dari sejarah. Manusia menulis tentang Tuhan. Dalam buku, dalam kisah, dalam epos, dalam puisi, dalam apapun itu. Dan dari generasi ke generasi, kita menjaga dan memastikan bahwa Tuhan tetap hidup. Baik itu lewat jalan damai maupun jalur pemaksaan, the love you have to your God pushes you to keep Him alive. And so God live thru us. Kita adalah lidah Tuhan, Kita adalah tangan yang menuliskan Tuhan. Kita adalah perpanjangan Tuhan. Tuhan butuh kita untuk meneruskan dia, menceritakan kisahnya, mendakwahkan ajarannya.
Dan kita butuh Tuhan. Alasan kita memang berbeda-beda untuk memeluk agama, but I say, I need my God. In a chaos, God is something bigger that life itself, and you need that. You need an idea that there’s something bigger than life that awaits you, atones your sins, rewards you for every kindness with absolute justice. God will always be there to catch you, because God will never fail us. Dan dalam dunia yang kacau dan penuh dengan hal-hal yang menyakitkan, Tuhan adalah sesuatu yang absurd in the best way. Invisible anchor that gives you peace. God is the highest law, because let’s face it, the idea of good and evil came from an old idea of God and the Devil. Dan Tuhan alu diterjemahkan menjadi sebuah agama. Karena Tuhan dating dalam ajaran, kepercayaan, dogma.
Tapi, Tuhan juga bisa jadi sebuah alasan untuk berbuat kejahatan. Selain ekspansi damai yang dilakukan Budha, sejarah menceritakan bahwa beberapa agama melakukan banyak hal untuk menyebarkan agama mereka, dan nggak semuanya dilakukan dengan jalan damai. People do kill for religion, for the idea of God itself. And it’s frightening. Karena ketika kita membenarkan kekerasan atas nama Tuhan, lalu apa yang kita punya untuk menjaga kedamaian?
Lennon berpikir bahwa tanpa agama, dunia akan lebih damai. Lennon mendambakan Utopia, dimana semua manusia adalah sama tanpa ada pembeda. I say, yeah, because world of nihilism surely will lead you into total peace. Kalo kata temen, Lennon udah masuk majalah hidayah “Seorang Musisi Kuburnya Dipenuhi Pita Kaset Rusak Karena Tidak Percaya Tuhan”.
Kembali lagi pada ide bahwa Tuhan adalah sebuah ide. Kalau kita dan kesadaran kita memutuskan bahwa apa yang kita lakukan salah atau benar, bukankah hal yang paling mudah adalah mengambil the doubt of the benefit? Take the best of the idea itself and live it thru your conscience, act by it. Jadilah pemeluk agama dan Penerus Lidah Tuhan yang baik. In a world where life is nothing but a number of casualties written on a news, our conscience and our act of kindness is what makes life worth living for other. Tuhan seharusnya adalah sesuatu yang indah dan terang, mengapa harus kita gelapkan? Kalau Tuhan bisa mengeluarkan yang terbaik dari kita, ya tetaplah di jalan itu. I  don’t live fully to my religion, because….well I just don’t. Bukan karena aku tidak bisa. Tapi dalam beberapa hal, aku merasa bahwa agama adalah bahasa yang kita terjemahhkan dalam kehidupan. Agama adalah kesadaran. Apapun agama yang kamu pilih, kamu memilih sesuatu yang paling membuatmu damai, sesuatu yang paling membuat kamu tenang. Maka terjemahkan agama dan tuhanmu dalam kebaikan. 
               

Those who believe that they believe in God, but without passion in their hearts, without anguish in mind, without uncertainty, without doubt, without an element of despair even in their consolation, believe in the God idea, not God himself. Miguel de Unamuno 

Tumbuh

Kita berangkat dari satu titik dan berkembang,
dan meskipun tampak statis,
saat aku membaca lagu tulisan-tulisanku ke balakang, aku merasa tumbuh.
Aku merasa berubah.
Beberapa begitu memalukan dan ingin kuhapus saja, tapi,
aku tidak bisa menghapus kenangan dari hidupku.
Melupakan.



aku bergerak,
dan aku merasa sedikit senang karena aku tumbuh, meskipun sedikit.


Kamis, 05 Juni 2014

I wish

I wish that you could see through me.
Because i couldnt show what's underneath this skin to you.
I wish that you could see through me.
Because there are too many stories to tell and i lost for words.
I wish that you could see through me.
And love me for who i really am, not who im trying to be.
I wish that you could see through me.
Because deep down im scarred and torn, not whole and vibrant.

I wish that you could see through me.
I wish.

Jumat, 28 Maret 2014

Merah Bata

Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Baru terasa saat tidak merasa apa-apa. 
Lalu satu dua mengetuknya, kadang memukulnya keras sekali.
Dan bisa kulihat siapa yang paling terasa dentumannya.
Mereka yang kadang sudah ada di dalamnya.

Aku ambil acuhmu di atas pura-puramu, selalu.

Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Saat ini runtuh sesekali batunya.
Aku takut, karena kadang runtuhnya gemuruh.
Dan aku tenggelam lama sekali di dalamnya.
Kubayangkan lagi membangunnya....ah.

Aku ambil acuhmu, di atas pura-puramu, selalu.

Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Sesekali kubuka agar berganti udara, air, semua luka di dalamnya.
Di dalam sini, tidak ada merah bata menjulang yang kupasang di luar tembok raksasa.
Hanya ada lekang dan sepi yang menjerit-jerit memekakkan.
Bahkan aku takut melongok ke dalamnya.

Aku ambil acuhmu, di atas pura-puramu, selalu.
Tapi aku bahkan berpura-pura.
Lama aku lupa tembok merah bata itu milikku. Aku lupa kosong dan nyeri di dalamnya.
Aku mau lupa mengetuk dan membukanya.
Aku mau meninggalkannya jauh di dalam sana.
Hanya saja, aku lupa kalau sebagian besar hatiku, terkurung di dalamnya.






Apa berani, aku merasa?
Apa sampai disini saja, aku pura-pura?












Selasa, 31 Desember 2013

Tertangkap di tengah-tengah

Pusaran perasaan,
mungkin mengalahkan janji dan sumpah.
Hanya kata yang tinggal kata.

Pusaran perasaan,
yang dulu sekali pernah aku tenggelam di dalamnya,
dan tidak pernah aku ingin kembali lagi.

Pusaran perasaan,
yang bahkan hanya dengan menyaksikannya,
kamu rasakan kengerian yang merasuk, yang tembus ke tulangmu.
takut terjerumus ke dalam kekacauan yang sama.

Jadi aku diam dan memandang.
Aku pernah tahu rasaya.
Aku ingin, tapi aku takut kembali.

Pelukan saja kukirimkan,
untuk kalian yang remuk redam.
Nanti juga hilang.
Nanti juga hilang.