Rabu, 25 Februari 2009

Kala

Kutelan pil pil itu, belasan jumlahnya.
Tablet,pil pil, kapsul, besar kecil, semuanya.

Butuh,aku butuh mati rasa.

Semenit,dua menit,hanya pahit. Dan air mataku masih sama mengalir,dan hatiku masih sakit.

Berlari,aku menggedor gedor pintu dokter anastesi nomor satu. Di dunia, tertera di plangnya.

Tolong,tolong, mati rasakan hati saya.
Ia menyuntikku, ampul paling ampuh,anastesi paling efektif.

Aku limbung, aku hilang. Tapi dalam kesadaran,sakit itu sungguh menghunjam.


Ya,ya,aku tahu.
Tidak ada yang dapat membunuh rasa ini.
Di sudut,menggigil, memeluk lutut sendiri, aku berdoa agar diberi amnesia.
Mungkin, melupakan tentang kita adalah jawaban atas semuanya.

Anastesi untuk hatiku.
Dan kosong untuk dirimu.

2 komentar:

Haris mengatakan...

don't fight the pain, just embrace it

Ariza mengatakan...

And the best anesthetic in the world -in this case- is TIME. Sounds cliche, but real ;).
Great work..