Jumat, 06 Februari 2009

Permisi.

Aku tidak perlu menyebut namamu dalam sajak sajakku.
Bukankah, kau yang paling bisa membacaku?

Aku tidak perlu mencari sosokmu dalam duniaku.
Kamu hadir,dan aku tau kamu akan selalu mengamati duniaku.

Aku tidak perlu menatap matamu.
Sudah kutemu bintang itu di langit langit sajakmu, ribuan jumlahnya.

Aku tidak perlu memelukmu untuk tahu

ada setitik aku disana.

Aku tidak pernah melewatkanmu, hanya persilangan ini yang harus kupunya.

Maka, ijinkan aku bermimpi tentang kamu. Sekali lagi. Mungkin malam ini, mungkin nanti.

Mungkin.

Dan di tepi ini, kugenggam imajimu sekali lagi,
hujan masih juga belum berhenti mengetuk ruas ruas rinduku.

2 komentar:

Lazuardi Ansori mengatakan...

dalam hanyal, akal kadang cuma sejengkal...
dalam mimpi, hati kadang setengah mati....

salam kenal...
nice poem....

Anonim mengatakan...

:)

Tengkyuwh..