I wish that you could see through me.
Because i couldnt show what's underneath this skin to you.
I wish that you could see through me.
Because there are too many stories to tell and i lost for words.
I wish that you could see through me.
And love me for who i really am, not who im trying to be.
I wish that you could see through me.
Because deep down im scarred and torn, not whole and vibrant.
I wish that you could see through me.
I wish.
There are things that remain the same, the place you will always come home to.
Kamis, 05 Juni 2014
Jumat, 28 Maret 2014
Merah Bata
Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Baru terasa saat tidak merasa apa-apa.
Lalu satu dua mengetuknya, kadang memukulnya keras sekali.
Dan bisa kulihat siapa yang paling terasa dentumannya.
Mereka yang kadang sudah ada di dalamnya.
Aku ambil acuhmu di atas pura-puramu, selalu.
Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Saat ini runtuh sesekali batunya.
Aku takut, karena kadang runtuhnya gemuruh.
Dan aku tenggelam lama sekali di dalamnya.
Kubayangkan lagi membangunnya....ah.
Aku ambil acuhmu, di atas pura-puramu, selalu.
Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Sesekali kubuka agar berganti udara, air, semua luka di dalamnya.
Di dalam sini, tidak ada merah bata menjulang yang kupasang di luar tembok raksasa.
Hanya ada lekang dan sepi yang menjerit-jerit memekakkan.
Bahkan aku takut melongok ke dalamnya.
Aku ambil acuhmu, di atas pura-puramu, selalu.
Tapi aku bahkan berpura-pura.
Lama aku lupa tembok merah bata itu milikku. Aku lupa kosong dan nyeri di dalamnya.
Aku mau lupa mengetuk dan membukanya.
Aku mau meninggalkannya jauh di dalam sana.
Hanya saja, aku lupa kalau sebagian besar hatiku, terkurung di dalamnya.
Apa berani, aku merasa?
Apa sampai disini saja, aku pura-pura?
Selasa, 31 Desember 2013
Tertangkap di tengah-tengah
Pusaran perasaan,
mungkin mengalahkan janji dan sumpah.
Hanya kata yang tinggal kata.
Pusaran perasaan,
yang dulu sekali pernah aku tenggelam di dalamnya,
dan tidak pernah aku ingin kembali lagi.
Pusaran perasaan,
yang bahkan hanya dengan menyaksikannya,
kamu rasakan kengerian yang merasuk, yang tembus ke tulangmu.
takut terjerumus ke dalam kekacauan yang sama.
Jadi aku diam dan memandang.
Aku pernah tahu rasaya.
Aku ingin, tapi aku takut kembali.
Pelukan saja kukirimkan,
untuk kalian yang remuk redam.
Nanti juga hilang.
Nanti juga hilang.
mungkin mengalahkan janji dan sumpah.
Hanya kata yang tinggal kata.
Pusaran perasaan,
yang dulu sekali pernah aku tenggelam di dalamnya,
dan tidak pernah aku ingin kembali lagi.
Pusaran perasaan,
yang bahkan hanya dengan menyaksikannya,
kamu rasakan kengerian yang merasuk, yang tembus ke tulangmu.
takut terjerumus ke dalam kekacauan yang sama.
Jadi aku diam dan memandang.
Aku pernah tahu rasaya.
Aku ingin, tapi aku takut kembali.
Pelukan saja kukirimkan,
untuk kalian yang remuk redam.
Nanti juga hilang.
Nanti juga hilang.
Rabu, 20 November 2013
Pinjaman
Masuk sebentar,
bergeliat di riuh gelisah, mungkin anak topan mungkin sekedar angin lalu yang agak keras.
Tergesa
Karena apa yang ada adalah sementara.
Diam dan pejam.
Pegang dan hilang.
Hirup dan hidup.
Sebentar saja, temani aku.
bergeliat di riuh gelisah, mungkin anak topan mungkin sekedar angin lalu yang agak keras.
Tergesa
Karena apa yang ada adalah sementara.
Diam dan pejam.
Pegang dan hilang.
Hirup dan hidup.
Sebentar saja, temani aku.
Rabu, 13 November 2013
Tertinggal
Di pangkal lidah,
ada rasa yang tertinggal dan tidak bisa kuenyahkan.
Seperti baal.
Pahit yang entah sajak kapan bercokol di sana.
Di pangkal lidah,
ada pahit yang membekas.
Dan beratus kali kucoba menghapus,
tetap saja rasa itu tinggal dan menolak hilang.
Bekas.
Pahit.
Seperti polusi rasa yang mengganggu, kamu tahu?
Seperti semua rasa yang kaucecap setelah itu tidak sama lagi.
Dan kamu perlahan lupa seperti apa rasa sebenarnya.
Maka kamu belajar melupakan kalau itu bukan bagian dari indramu.
Dan kamu belajar menerima.
Mencecap rasa, dengan satu rasa yang kamu tahu ada di pangkal lidah.
Merasakan bahwa, semanis apapun dunia, ada pahit yang tinggal di benakmu,
dan kamu tahu, tak akan pernah bisa menghapusnya.
ada rasa yang tertinggal dan tidak bisa kuenyahkan.
Seperti baal.
Pahit yang entah sajak kapan bercokol di sana.
Di pangkal lidah,
ada pahit yang membekas.
Dan beratus kali kucoba menghapus,
tetap saja rasa itu tinggal dan menolak hilang.
Bekas.
Pahit.
Seperti polusi rasa yang mengganggu, kamu tahu?
Seperti semua rasa yang kaucecap setelah itu tidak sama lagi.
Dan kamu perlahan lupa seperti apa rasa sebenarnya.
Maka kamu belajar melupakan kalau itu bukan bagian dari indramu.
Dan kamu belajar menerima.
Mencecap rasa, dengan satu rasa yang kamu tahu ada di pangkal lidah.
Merasakan bahwa, semanis apapun dunia, ada pahit yang tinggal di benakmu,
dan kamu tahu, tak akan pernah bisa menghapusnya.
Rabu, 11 September 2013
There's something about earth.
Ya Allah serius banget ya judul postingan kali ini. Hihihi.
Jadi, beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan buku berjudul The Edible History of Humanity. Salah satu bab dalam buku itu menjelaskan bahwa makan yang saat ini kita makan, yang berasal dari alam, sesungguhnya adalah bentuk kecacatan dan mutasi yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Take an example, wortel. Wortel yang kita kenal saat ini berwarna oranye dengan rasa yang sedikit manis. PAdahal, wortel liar sebenarnya berwarna...ungu dan putih. Seperti bit dan lobak. wortel yang berwarna oranye saat ini adalah hasil rekayasa genetika untuk mebuat rasanya menjadi lebih manis. Jadilah wortel yang kita kenal saat ini berwarna oranye.
Jagung yang direkayasa agar bertongkol dua, bahkan tiga.
Padi yang direkayasa agar bulir-bulir padinya kuat menempel meskipun terbawa angin.
Gandum yang direkayasa agar selubung bijinya mudah dilepaskan.
Tidak berhenti sampai di situ, manusia juga memanipulasi waktu tumbuh tanaman agar memastikan ketersediaan pangan sesuai dengan kebutuhan manusia.
Human turned from hunter into farmer.
Dari segi manusia, domestikasi ini mungkin menguntungkan, tapi dari segi tanaman, semua sifat alami itu membuat mereka tergantung kepada manusia. More convenient food, less resilient plant.
Domestikasi tanaman ini ternyata membuat manusia menjadi lebih lemah. Ilmuwan menemukan bahwa manusia yang hidup dengan berburu memiliki fisik yang lebih kuat daripada manusia yang hidup dengan bertani dan memakan makanan dengan jenis terbatas.
Basically, back then when we were still living in a cave, eating whatever nature gives us... we were much healthier. And then, people started to notice that by piling food, they have more power. Keharusan berbagi makanan, egalitas dan semua kewajiban saat hidup nomaden dan berburu hilang saat manusia mulai menetap dan bertani. Manusia mulai menginginkan barang, sesuatu yang lebih yang tadinya tidak bisa dimiliki saat harus hidup berpindah-pindah. Food was once a powerful barter tools. We produce food more than we could eat, thus we exploit nature, turn it into somekind of crippled organism, squeeze it until the very last drop.
Nowadays, it's not only about food. Kita mengeksploitasi semua yang kita bisa. Logam. Minyak. Kayu. Gas Bumi. Tanah. Pasir. Air. Bukan karena kita butuh, tapi karena sebagian kecil dari manusia tidak dapat memuaskan ketamakan. They still want more. Health, power, money, over another people, whatever you can get.
And it's frightening. Human is frightening. Ilegal logging, mining without land reclamation, genetics mutation. We build the castle of gold on a pile of ashes. And i wonder, how long we will survive from nature's wraith.
Manusia memanipulasi alam, dan alam dengan segala keajaiban dan kemampuannya untuk menyeimbangkan diri, beradaptasi pada perubahan tersebut. Come to think of it, nature only reacted to the change. To the damage made by human. Saat ini, sudah mulai banyak manusia yang peduli lingkungan. Kembali ke pola hidup sehat, organik, bertanam sendiri di rumah... and i think that's good. I just hope that it's not too late.
As for me, i have to admit that i dont really do so called eco-green living. But i try. I dont litter, i sleep with the light off, i use water as little as possible, and hopefully, i can add another good habits to help preserve the nature.
"Earth provides enough to satisfy every man's needs, but not every man's greed"- Mahatma Gandhi.
Jumat, 23 Agustus 2013
A break too long.
It was started when, i dont know.
I dont even know.
But lies had been shoved into me, i have a hard time distinguish them with the real truth.
And then i was four,or three?
the tangy taste inside my little tongue,
shoving the reality into me while i barely understand the word life itself.
But i do remember too well. and too much.
I just didnt understand, at that time.
I think i still dont understand, though.
And then i walked the path,
sometimes i chose it, sometimes it chose me.
Having whatever normality a girl can grasp, while showing the world indifference.
Because i was so proud and so damn determined to show the world "in your face".
A not so subtle slam i unconsciously build inside me.
How was i supposed to know,
that years after years after years things could go back, haunting you?
How was i supposed to know,
that years after years everything you do, spinning around those moments?
And still,
how much you despise it,
you have nothing to blame on.
It was all in you.
You have nowhere to talk to,
Because the one you should trust at the first time,
is the one that create your whole life based on a lie.
I choke it back.
I struggle to shove it inside me.
Because none of them matters,
Because none of them matters.
Because none of them matters!!!
Because none of them matters, right?
Rabu, 27 Februari 2013
Lebih dari laut
Saya rindu laut.
Saya rindu tersedak air asin yang memabukkan itu.
Saya rindu rambut saya keras dan lengket dibasuh air garam.
Saya rindu mencium amis kebiruan, dari jarak puluhan meter.
Saya rindu ikan ikan itu berseliweran di depan mata, menggoda.
Saya rindu degup jantung yang mendadak cepat dan telinga yang mendadak pengang tiap badan ditolakkan melawan gaya apung.
Saya rindu air yang hangat dan banyak itu, memeluk kulit yang lamat terbakar matahari.
Saya rindu berenang ke kedalaman. Untuk dikembalikan ke hangat permukaan.
Tapi kalau ada kamu, kalah semua rindu itu.
Saya rindu tersedak air asin yang memabukkan itu.
Saya rindu rambut saya keras dan lengket dibasuh air garam.
Saya rindu mencium amis kebiruan, dari jarak puluhan meter.
Saya rindu ikan ikan itu berseliweran di depan mata, menggoda.
Saya rindu degup jantung yang mendadak cepat dan telinga yang mendadak pengang tiap badan ditolakkan melawan gaya apung.
Saya rindu air yang hangat dan banyak itu, memeluk kulit yang lamat terbakar matahari.
Saya rindu berenang ke kedalaman. Untuk dikembalikan ke hangat permukaan.
Tapi kalau ada kamu, kalah semua rindu itu.
Minggu, 09 Desember 2012
Maju.
Kadang, ada hening yang ingin didengarkan. Ada isak yang disimpan. Ada luka yang dibebat rapat. Ada lelah yang ditertawakan sendiri.
Ledakan ledakan yang diredam dalam hati. Tembok yang dibangun sendiri. Benak yang mengeras tak harap dimasuki. Dan hidup yang kaurasa bersandar semua padamu, pilihan apa yang kaupunya selain menegakkan kepala dan jadi tonggaknya?
Pinjami, pinjami aku pelukmu kali ini saja. Kali ini saja.
Kamis, 11 Oktober 2012
setengah dua belas malam
Kalau nanti aku berhenti menulisimu,
mungkin aku bukannya mau.
Hanya saja,
semua tanya adalah pintu yang membuka,
Jendela kaca yang memperlihatkan sisi lemah kita.
Dan mungkin, aku bosan menulisimu dengan kata-kata yang...
saat kubaca kembali, hampir tak kukenali siapa penulisnya.
Sudah, sudah,
jangan lagi kita bertanya dan merasa..
Kadang memang,
butuh beratus kali tersungkur dan bangkit dan tersungkur dan bangkit,
sampai akhirnya mengerti,
bahwa hati bisa mudah dibuka...
dan ditutup...
dan dikunci kembali.
Cinta yang sakit dan biru itu, hanya akan terjadi sekali, dua kali.
Setelah itu, tinggal kamu dan sisa-sisa hatimu.
Percayalah, setelah itu semua kan lebih mudah.
Melupakan adalah mustahil,
seperti luka yang akan terus ada bekasnya.
Hanya bekas. Tapi sakit itu makin lama kan makin samar.
Nah, kamu, hatiku yang entah tinggal seper-berapa.
Pelan-pelan.
Jatuhlah pelan-pelan kali ini.
mungkin aku bukannya mau.
Hanya saja,
semua tanya adalah pintu yang membuka,
Jendela kaca yang memperlihatkan sisi lemah kita.
Dan mungkin, aku bosan menulisimu dengan kata-kata yang...
saat kubaca kembali, hampir tak kukenali siapa penulisnya.
Sudah, sudah,
jangan lagi kita bertanya dan merasa..
Kadang memang,
butuh beratus kali tersungkur dan bangkit dan tersungkur dan bangkit,
sampai akhirnya mengerti,
bahwa hati bisa mudah dibuka...
dan ditutup...
dan dikunci kembali.
Cinta yang sakit dan biru itu, hanya akan terjadi sekali, dua kali.
Setelah itu, tinggal kamu dan sisa-sisa hatimu.
Percayalah, setelah itu semua kan lebih mudah.
Melupakan adalah mustahil,
seperti luka yang akan terus ada bekasnya.
Hanya bekas. Tapi sakit itu makin lama kan makin samar.
Nah, kamu, hatiku yang entah tinggal seper-berapa.
Pelan-pelan.
Jatuhlah pelan-pelan kali ini.
Langganan:
Postingan (Atom)