Jumat, 15 Agustus 2014

And then....

When the world is rushing in such pace you cant keep up, it's okay to take a break.
But not to surrender, because you know you are so much more.

Kamis, 07 Agustus 2014

God is an idea. God is an idea?

“God is dead.  God remains dead. And we have killed him. Yet his shadow still looms. How shall we comfort ourselves, the murderers of all murderers? What was holiest and mightiest of all that the world has yet owned has bled to death under our knives: who will wipe this blood off us? What water is there for us to clean ourselves? What festivals of atonement, what sacred games shall we have to invent? Is not the greatness of this deed too great for us? Must we ourselves not become gods simply to appear worthy of it?”
Quote Nietzche itu kubaca malam-malam saat aku membuka salah satu posting Mbak Siska di Path. Great minds think alike ya..*dikaplok*, karena siangnya baru aja aku kepikiran tentang the idea of the God itself. Neil Gaiman dalam buku American Gods menceritakan tentang Tuhan-tuhan yang kuat dan hidup dari kepercayaan manusia. The more you believe about Gods, the stronger they are. In some twisted way, God exist because we believe they exist. Once the idea of God is forgotten, they cease to exist in reality.
Dan aku merasa kalau hal itu benar, terlepas dari apapun kepercayaan kita, Tuhan adalah sebuah ide maha raksasa yang karena dipercayai secara massal, maka dia hidup. Terlepas dari mukjizat-mukjizat dan bukti yang membuktikan kalau itu ada, Tuhan adalah bagian dari sejarah. Manusia menulis tentang Tuhan. Dalam buku, dalam kisah, dalam epos, dalam puisi, dalam apapun itu. Dan dari generasi ke generasi, kita menjaga dan memastikan bahwa Tuhan tetap hidup. Baik itu lewat jalan damai maupun jalur pemaksaan, the love you have to your God pushes you to keep Him alive. And so God live thru us. Kita adalah lidah Tuhan, Kita adalah tangan yang menuliskan Tuhan. Kita adalah perpanjangan Tuhan. Tuhan butuh kita untuk meneruskan dia, menceritakan kisahnya, mendakwahkan ajarannya.
Dan kita butuh Tuhan. Alasan kita memang berbeda-beda untuk memeluk agama, but I say, I need my God. In a chaos, God is something bigger that life itself, and you need that. You need an idea that there’s something bigger than life that awaits you, atones your sins, rewards you for every kindness with absolute justice. God will always be there to catch you, because God will never fail us. Dan dalam dunia yang kacau dan penuh dengan hal-hal yang menyakitkan, Tuhan adalah sesuatu yang absurd in the best way. Invisible anchor that gives you peace. God is the highest law, because let’s face it, the idea of good and evil came from an old idea of God and the Devil. Dan Tuhan alu diterjemahkan menjadi sebuah agama. Karena Tuhan dating dalam ajaran, kepercayaan, dogma.
Tapi, Tuhan juga bisa jadi sebuah alasan untuk berbuat kejahatan. Selain ekspansi damai yang dilakukan Budha, sejarah menceritakan bahwa beberapa agama melakukan banyak hal untuk menyebarkan agama mereka, dan nggak semuanya dilakukan dengan jalan damai. People do kill for religion, for the idea of God itself. And it’s frightening. Karena ketika kita membenarkan kekerasan atas nama Tuhan, lalu apa yang kita punya untuk menjaga kedamaian?
Lennon berpikir bahwa tanpa agama, dunia akan lebih damai. Lennon mendambakan Utopia, dimana semua manusia adalah sama tanpa ada pembeda. I say, yeah, because world of nihilism surely will lead you into total peace. Kalo kata temen, Lennon udah masuk majalah hidayah “Seorang Musisi Kuburnya Dipenuhi Pita Kaset Rusak Karena Tidak Percaya Tuhan”.
Kembali lagi pada ide bahwa Tuhan adalah sebuah ide. Kalau kita dan kesadaran kita memutuskan bahwa apa yang kita lakukan salah atau benar, bukankah hal yang paling mudah adalah mengambil the doubt of the benefit? Take the best of the idea itself and live it thru your conscience, act by it. Jadilah pemeluk agama dan Penerus Lidah Tuhan yang baik. In a world where life is nothing but a number of casualties written on a news, our conscience and our act of kindness is what makes life worth living for other. Tuhan seharusnya adalah sesuatu yang indah dan terang, mengapa harus kita gelapkan? Kalau Tuhan bisa mengeluarkan yang terbaik dari kita, ya tetaplah di jalan itu. I  don’t live fully to my religion, because….well I just don’t. Bukan karena aku tidak bisa. Tapi dalam beberapa hal, aku merasa bahwa agama adalah bahasa yang kita terjemahhkan dalam kehidupan. Agama adalah kesadaran. Apapun agama yang kamu pilih, kamu memilih sesuatu yang paling membuatmu damai, sesuatu yang paling membuat kamu tenang. Maka terjemahkan agama dan tuhanmu dalam kebaikan. 
               

Those who believe that they believe in God, but without passion in their hearts, without anguish in mind, without uncertainty, without doubt, without an element of despair even in their consolation, believe in the God idea, not God himself. Miguel de Unamuno 

Tumbuh

Kita berangkat dari satu titik dan berkembang,
dan meskipun tampak statis,
saat aku membaca lagu tulisan-tulisanku ke balakang, aku merasa tumbuh.
Aku merasa berubah.
Beberapa begitu memalukan dan ingin kuhapus saja, tapi,
aku tidak bisa menghapus kenangan dari hidupku.
Melupakan.



aku bergerak,
dan aku merasa sedikit senang karena aku tumbuh, meskipun sedikit.


Kamis, 05 Juni 2014

I wish

I wish that you could see through me.
Because i couldnt show what's underneath this skin to you.
I wish that you could see through me.
Because there are too many stories to tell and i lost for words.
I wish that you could see through me.
And love me for who i really am, not who im trying to be.
I wish that you could see through me.
Because deep down im scarred and torn, not whole and vibrant.

I wish that you could see through me.
I wish.

Jumat, 28 Maret 2014

Merah Bata

Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Baru terasa saat tidak merasa apa-apa. 
Lalu satu dua mengetuknya, kadang memukulnya keras sekali.
Dan bisa kulihat siapa yang paling terasa dentumannya.
Mereka yang kadang sudah ada di dalamnya.

Aku ambil acuhmu di atas pura-puramu, selalu.

Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Saat ini runtuh sesekali batunya.
Aku takut, karena kadang runtuhnya gemuruh.
Dan aku tenggelam lama sekali di dalamnya.
Kubayangkan lagi membangunnya....ah.

Aku ambil acuhmu, di atas pura-puramu, selalu.

Membangun tembok raksasa yang kadang kulupa.
Sesekali kubuka agar berganti udara, air, semua luka di dalamnya.
Di dalam sini, tidak ada merah bata menjulang yang kupasang di luar tembok raksasa.
Hanya ada lekang dan sepi yang menjerit-jerit memekakkan.
Bahkan aku takut melongok ke dalamnya.

Aku ambil acuhmu, di atas pura-puramu, selalu.
Tapi aku bahkan berpura-pura.
Lama aku lupa tembok merah bata itu milikku. Aku lupa kosong dan nyeri di dalamnya.
Aku mau lupa mengetuk dan membukanya.
Aku mau meninggalkannya jauh di dalam sana.
Hanya saja, aku lupa kalau sebagian besar hatiku, terkurung di dalamnya.






Apa berani, aku merasa?
Apa sampai disini saja, aku pura-pura?












Selasa, 31 Desember 2013

Tertangkap di tengah-tengah

Pusaran perasaan,
mungkin mengalahkan janji dan sumpah.
Hanya kata yang tinggal kata.

Pusaran perasaan,
yang dulu sekali pernah aku tenggelam di dalamnya,
dan tidak pernah aku ingin kembali lagi.

Pusaran perasaan,
yang bahkan hanya dengan menyaksikannya,
kamu rasakan kengerian yang merasuk, yang tembus ke tulangmu.
takut terjerumus ke dalam kekacauan yang sama.

Jadi aku diam dan memandang.
Aku pernah tahu rasaya.
Aku ingin, tapi aku takut kembali.

Pelukan saja kukirimkan,
untuk kalian yang remuk redam.
Nanti juga hilang.
Nanti juga hilang.








Rabu, 20 November 2013

Pinjaman

Masuk sebentar,
bergeliat di riuh gelisah, mungkin anak topan mungkin sekedar angin lalu yang agak keras.
Tergesa
Karena apa yang ada adalah sementara.

Diam dan pejam.
Pegang dan hilang.
Hirup dan hidup.
Sebentar saja, temani aku.

Rabu, 13 November 2013

Tertinggal

Di pangkal lidah,
ada rasa yang tertinggal dan tidak bisa kuenyahkan.
Seperti baal.
Pahit yang entah sajak kapan bercokol di sana.

Di pangkal lidah,
ada pahit yang membekas.
Dan beratus kali kucoba menghapus,
tetap saja rasa itu tinggal dan menolak hilang.

Bekas.
Pahit.
Seperti polusi rasa yang mengganggu, kamu tahu?
Seperti semua rasa yang kaucecap setelah itu tidak sama lagi.
Dan kamu perlahan lupa seperti apa rasa sebenarnya.

Maka kamu belajar melupakan kalau itu bukan bagian dari indramu.
Dan kamu belajar menerima.
Mencecap rasa, dengan satu rasa yang kamu tahu ada di pangkal lidah.
Merasakan bahwa, semanis apapun dunia, ada pahit yang tinggal di benakmu,
dan kamu tahu, tak akan pernah bisa menghapusnya.


Rabu, 11 September 2013

There's something about earth.

Ya Allah serius banget ya judul postingan kali ini. Hihihi.
Jadi, beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan buku berjudul The Edible History of Humanity. Salah satu bab dalam buku itu menjelaskan bahwa makan yang saat ini kita makan, yang berasal dari alam, sesungguhnya adalah bentuk kecacatan dan mutasi yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Take an example, wortel.  Wortel yang kita kenal saat ini berwarna oranye dengan rasa yang sedikit manis. PAdahal, wortel liar sebenarnya berwarna...ungu dan putih. Seperti bit dan lobak. wortel yang berwarna oranye saat ini adalah hasil rekayasa genetika untuk mebuat rasanya menjadi lebih manis. Jadilah wortel yang kita kenal saat ini berwarna oranye.
Jagung yang direkayasa agar bertongkol dua, bahkan tiga.
Padi yang direkayasa agar bulir-bulir padinya kuat menempel meskipun terbawa angin.
Gandum yang direkayasa agar selubung bijinya mudah dilepaskan.
Tidak berhenti sampai di situ, manusia juga memanipulasi waktu tumbuh tanaman agar memastikan ketersediaan pangan sesuai dengan kebutuhan manusia.
Human turned from hunter into farmer.

Dari segi manusia, domestikasi ini mungkin menguntungkan, tapi dari segi tanaman, semua sifat alami itu membuat mereka tergantung kepada manusia. More convenient food, less resilient plant.
Domestikasi tanaman ini ternyata membuat manusia menjadi lebih lemah. Ilmuwan menemukan bahwa manusia yang hidup dengan berburu memiliki fisik yang lebih kuat daripada manusia yang hidup dengan bertani dan memakan makanan dengan jenis terbatas. 

Basically, back then when we were still living in a cave, eating whatever nature gives us... we were much healthier. And then, people started to notice that by piling food, they have more power. Keharusan berbagi makanan, egalitas dan semua kewajiban saat hidup nomaden dan berburu hilang saat manusia mulai menetap dan bertani. Manusia mulai menginginkan barang, sesuatu yang lebih yang tadinya tidak bisa dimiliki saat harus hidup berpindah-pindah. Food was once a powerful barter tools. We produce food more than we could eat, thus we exploit nature, turn it into somekind of crippled organism, squeeze it until the very last drop.

Nowadays, it's not only about food. Kita mengeksploitasi semua yang kita bisa. Logam. Minyak. Kayu. Gas Bumi. Tanah. Pasir. Air. Bukan karena kita butuh, tapi karena sebagian kecil dari manusia tidak dapat memuaskan ketamakan. They still want more. Health, power, money, over another people, whatever you can get.

And it's frightening. Human is frightening. Ilegal logging, mining without land reclamation, genetics mutation. We build the castle of gold on a pile of ashes. And i wonder, how long we will survive from nature's wraith.  
Manusia memanipulasi alam, dan alam dengan segala keajaiban dan kemampuannya untuk menyeimbangkan diri, beradaptasi pada perubahan tersebut. Come to think of it, nature only reacted to the change. To the damage made by human. Saat ini, sudah mulai banyak manusia yang peduli lingkungan. Kembali ke pola hidup sehat, organik, bertanam sendiri di rumah... and i think that's good. I just hope that it's not too late.

As for me, i have to admit that i dont really do so called eco-green living. But i try. I dont litter, i sleep with the light off, i use water as little as possible, and hopefully, i can add another good habits to help preserve the nature. 


"Earth provides enough to satisfy every man's needs, but not every man's greed"- Mahatma Gandhi.



Jumat, 23 Agustus 2013

A break too long.

It was started when, i dont know. 
I dont even know. 
But lies had been shoved into me, i have a hard time distinguish them with the real truth. 

And then i was four,or three? 
the tangy taste inside my little tongue, shoving the reality into me while i barely understand the word life itself. But i do remember too well. and too much. 
I just didnt understand, at that time.

I think i still dont understand, though. 

And then i walked the path, sometimes i chose it, sometimes it chose me.
Having whatever normality a girl can grasp, while showing the world indifference. 
Because i was so proud and so damn determined to show the world "in your face".
A not so subtle slam i unconsciously build inside me.

How was i supposed to know, that years after years after years things could go back, haunting you? 
How was i supposed to know, that years after years everything you do, spinning around those moments? And still, how much you despise it, you have nothing to blame on. 
It was all in you. 

You have nowhere to talk to, 
Because the one you should trust at the first time, is the one that create your whole life based on a lie. 

I choke it back. I struggle to shove it inside me. 
Because none of them matters, 
Because none of them matters. 
Because none of them matters!!! 
Because none of them matters, right?