Sabtu, 31 Januari 2009

Trivial

Resahku,
kusampaikan pada susuran jalan di kotamu.
Merindumu,
dan sejenak kutitipkan rasa pada gelenyar tawa yang menguap di udara.

Masih sama,
seperti dulu.

Tapi,
kali ini aku tidak hendak menyapamu,
hanya ingin
mengingat pijar pijar itu di sudut kota.

Tawaku semu.
Dan sesungguhnya, itu akan baik bagimu,
karena aku tak ingin memberimu neraka.

Jumat, 30 Januari 2009

Satu masa dimana aku ingin sendiri

Aku mencari belahan.
Seperti mencari kesempurnaan.
Sungguh, sungguh luar biasa melelahkan.
Saat tiba thba datang kesadaran.

Tidak ada,seorangpun, yang mampu bertahan disisiku.
Karena aku api,dan cintaku selalu habis terbakar menjadi abu.

Aku angin.
Aku hujan.
Aku mendung.
Aku pelangi.
Aku tidak butuh sesiapa untuk melengkapiku.

Aku mencari cinta, sambil tertatih dibawa pedih.
Saat kemudian kudapat,
kubuang pergi ke arah muara.

Mungkin, ceruk kecil tempat pulang itu,
tak akan pernah sanggup menampungku, hatiku yang selalu banjir pertanyaan, pikiran, dan sejuta ledakan..

Kamis, 29 Januari 2009

Lajang

Lajang bukanlah jalang,
jadi kumohon berhentilah kalian bertanya berulang ulang.

Lajang bukanlah kesalahan,
jadi berhentilah mencercaku dengan pertanyaan.

Lajang bukanlah beban bagiku,
jadi berhentilah mengasihaniku.

Dan kalian,
sungguh mati ingin kukembalikan pertanyaan.
Siapa juga yang mau hidup sendiri?
Lelakiku hanya belum sampai disini.

Aku lajang,dan aku bangga.
Kalian mungkin berkeluarga.
Tapi aku merasa masih cukup kaya.
Masih merasa bahagia.


Just shut up, people.

Kue apem, daun pisang, dan tanah becek.

Si kecil penjaja kue apem,
berteriak teriak mengusik pintu hatiku.
Menjajakan apem, menjual cerita, sekeping duka,
yang tersembunyi di balik senyum lucunya.

Hujan turun,dan berpayung daun pisang dia berlari,
menembusi pekarangan becek berlumpur.
Masih kekeuh dengan apem dan kue kue entah apa namanya.

Kecil,
kue apemmu itu, dan teriakanmu itu,
kaki mungilmu yang berlari menembusi jalan dan tanah becek itu..
Kenapa aku selalu merasa kamu datang pada serambi hatiku?

Dan siang ini Jakarta sungguh panas,
aku merindukan sosokmu yang selalu datang tiap hari..
Menembusi terik nuraniku dengan sejuk senyum dan perjuanganmu.

Apa kabarmu, lelaki kecilku..

Banci

Di sudut gelap kamu berdiri,
menjajakan vagina imitasi.

Sekeping, dua keping,
melacurkan hati dan nurani.

Dan aku terpekur.
Apakah air matamu imitasi juga?
Apakah hatimu lembut hati wanita?
Apakah cintamu murni, dan pada siapa?

Apa siapa,
aku tak hendak menghakimi.
Kalian cantik, sungguh cantik.

Aku hanya kebetulan sedih saja.
Mungkin,
tidak ada sangkut pautnya dengan kalian.
Mungkin.

Prisma

Kamu bukan matahari buatku, sayang.
Atau dunia seisinya.
Atau bulan, bintang, dan apalah pujangga punya kata.

Duniaku, duniaku berputar ada atau tiada eksistensimu di dalamnya.

Kauminta aku, menganalogikan dirimu dalam keindahan kata.
Baiklah,
dirimu prisma kaca bagiku.

Denganmu,
bisa kubuat pelangi dimana mana.
Kubiaskan sinar di tembok, di balik jendela, di lantai.

Kamu indah,bahkan tanpa kauproduksi pelangi pelangi imitasi itu.
Dan aku menyayangimu.
Cukupkah?

Rabu, 28 Januari 2009

sore

hari ini pun, kamu mendesak desakku,
tulislah, katamu.
apa apa yang muncul dalam benak dan ruang kecil hatimu.

aku tersanjung,
seakan membacaku adalah penting bagimu.
atau memang penting?

Tapi aku suka.
perimntaan permintaan kecilmu itu,
jadi alasan bagiku,
menyapamu lewat tulisan tulisanku.
Hai, kataku.
Apa kabarmu, tanyaku.
Tapi semua terbalut dalam bahasaku, sandi rahasiaku, mungkiiiinnnn
kamu pun pernah luput menyadari.

Lihat lihat, aku berlarian dan menembusi benakmu lewat tulisan tulisan ini,
dan aku tertawa.
Menulis untukmu, sekali lagi.
entah kapan baru ku jemu.

meledak

Enggg.
Hati manusia itu, diciptakan begitu kompleks ya?
bisa sakit, seneng, kangen, jatuh cinta, marah, bingung, bahkan,
tidak merasa.
NUMB.

Trus, trus, otak
mekanisme apa yang menyambungkan pikiran dengan hati,
sehingga apa apa yang kita pikirkan
berpengaruh pada perasaan,
dan merubah, bahkan mungkin bagi sebagian orang,
Otak adalah hati.
Trus, bingung deh
cogito ergo Sum
apa sih itu?
aku berpikir maka aku ada

maksudnya, eksistensi kita adalah ditentukan oleh kita sendiri?
orang gila?
mereka eksis gak?
mereka mikir gak ya?
mikir gak si?

eksistensi
pikiran
ya tuhan

manusia itu sangan kompleks, ya, sangat sangat kompleks.
tiap individu adalah unik.
i dont believe in Zodiac
atau Shio
atau apalah itu yang membagi manusia kedalam pengkotak kotakkan

people do change
dulu, i was a riot
ngomong mulu, make otak,
i didnt use my heart.

trus trus makin kesini
i change.
do you?
do we?

IYALAH VIO.
gak mungkin kan orang statis.
IH ANEH ya.

Hebat gitu, bisa ada mahluk sekompleks kita.
anehhh.
tanaman
hewan.
apa sekompleks kita?

kita gak cuma mahluk hidup, yang di buku biologi didefinisikan dengan:
1. bergerak
2. bernafas
3. berkembang biak
4. tumbuh
5. makan
6. mengeluarkan ekskresi (atau sekresi?)

ahaha apa lagi ya lupa.
NO.

kita lebih dari itu,
iya, manusia kan emang punya tujuan agung di balik penciptaannya.
Buat beribadah, ya kan, kalo dalam Alquran.
dan beribadah kan ada dua jalur,
hablum minallah hablum minanaas.

TApi kan ada hewan2 dan tumbuhan ini juga?
apa aku yang gak nyimak?

oh trus trus,
kadang aku mikir apa kalo kita pake otak
hati mati
vice cersa?

EHHH tapi ga juga.

Ambil contoh:
Kamu lapar. punya uang 500. ada pengemis laper juga.


1. Otak 1: Jangan ngasih, beli makanan aja. hati ga kepake.
2. Otak 1: ini investasi akhirat, buy him a bread. hati juga kepake disini.



ooo, jadi memang tergantung bagaimana kita manfaatin otak dan hati ya.
ternyata ada jembatannya.
agama.

Nautical

Jangkar dilempar sekelebut,
ke dalam laut berpaut,
menanti kabar dari layang tak bertuan
hinggap, mendarat, rindu dikirimkan.

Duhai Tuan pemilik panutan,
Sayalah hendak singgah, menitip seketip dua ketip, selarik hati puan.
ke tanah landai, ke pulau peri
tempat hati dititip sendiri.

singgah di tepian pantai
nyiur masih juga melambai,
memanggil manggil Raja pujaan,
Raja pujaan, segenap hati saya haturkan.

ada laut panjang membentang,
bukan maksud sirna menyeberang,
tapi jarak bukan segantang dua gantang,
maka kubisikkan rindu pada sang layang..

Di Jawadwipa kutunggu dirimu,
masih terus menunggu.

Nada

Kamu seperti nada ,
indah berdentang walau sendirian.
sekedar do atau mi atau fa,
yang manapun aku suka.

tadinya,
aku ingin membuat sebuah sajak panjang tentang merdumu,
tapi aku hanya diam tak sanggup lagi berkata kata.

Jadi, izinkan aku larut dalam hening ini,
menanti lagi nada-mu, nada-mu.

Indah.