Sabtu, 05 September 2009

The courage within

I (almost) never stepped out of my comfort zone.
Kuliah, kerja di Jakarta, itu keadaan yang memaksa gue buat pindah.
gue sanat sangat jarang mengambil keputusan "because i want it". Mostly, i decided because i have to. Gue lebih nyaman, berada di dalam "gua" ini.

Gue lebih sering melakukan sesuatu, buat gue sendiri. Ga mau pusing masalah orang lain, suka ga mau tau, cuek, dan ga paeduli. Istilahnya, ga mau cawe2. Karena semakin kita ikut campur, kadang gue ngrasa, hal itu bakal menyeret kita keluar dari comfort Zone. Semakin banyak kontaminasi dari pihak luar.
Lagipula, buat bener2 "cere" dengan seseorang, you have to be really courageous. Kenapa?
Karena, memberikan perasaan kita pada seseorang itu sama seperti taruhan.
I know, ada orang orang di luar sana yang bisa bener2 "menyayangi" tanpa mengharap balasan. And honestly, gue salut dengan orang orang semacam itu. gue ga tau, gue bisa apa ga.
Giving without asking back.
Not that im always asking for feedback, enggak, tapi pasti ada harapan itu, dan kalo ga kebales, you know that will hurt.

Dan buat gue, keputusan buat menyayangi seseorang, ide itu, scared me like hell.
Im the most selfish person, ever.
I love the idea of being loved, being taken care of.
Kadang ide itu terasa begitu benar, tapi, itu, utopis buat gue.

Gue orang yang lebih memilih orang yang gue sayang daripada orang yang sayang gue. Itu agak bersebrangan dengan ide " im-comfort-zone-lover-person", i know. Mungkin, karena buat hal lain gue milih sembunyi dalam gua, semua efeknya ngalir ke masalah "hati". Tentang hati, gue ga mau menjadi orang yang nentinya menyesal dan berkata " kenapa dulu gue ga gitu?"
Karena gue pernah menyesali satu hal, dan itu, gue sungguh berharap ga keulang lagi.

When you do feel it, you know that you really feel it, just go for it.
Buat semua orang orang yang gue sayang, gue peduliin, *dan kalian tau siapa kalian*
Just, go. Just go for everything you know worth trying for, strive for it.
Giving, and risking all you have to risk.
Kalo bisa nyampe tahap "im giving you this, just giving", itu bagus. Tapi kalo ga bisa, prepare to get hurt.

And when you get wounded, there will always be a friend to come home. I know im not a good person, lebih sering cuek, bukan tipe orang yang nanya2 atau care, dan gue ga bs offer apa apa, tapi Insyaallah, gue salalu ada buat orang orang yang gue sayang dan butuh gue.

I know, endingnya agak ga nyambung..^^

6 komentar:

kriwul mengatakan...

aku bingung deh. asli. hahahaha.

Anonim mengatakan...

if you have a small comfort zone, it's helpful to have a friend/partner who has bigger comfort zone.so that you can step lightly and use his/her zone for a bit.

still feeling comfy, but enough to see what are other things out there.

think about it this way, the more changes you went through, the more you learn and the more you live.

Anonim mengatakan...

@Kriw : hahahha, yg mananya say? emang rada ga nyambung, i know, hahaha..

@Mb elvin : Sejaun ini, they help me a lot by giving second opinion, encouraging, and yes, lending me their comfort zone..IDK, mbak..
Ini baru nyoba "step out" lagi.. wish me the best of luck..^^


-Vio-

Anonim mengatakan...

you won't need luck, sweetie ;)

go, conquer the world and have fun

but for in case, best of luck

xx

Anonim mengatakan...

+hmm, clingak clinguk+
merasa tersindir.. xixixiix...

-ska-

Vio mengatakan...

AAAHH, mba Skaaa, ga maksuud, ^^
+ampun+