Sabtu, 27 Desember 2008

Homicidal Suicide

Datang merayap pelan pelan,
dari hulu untuk mati dan terkulai.
Dalam keniscayaan cantik,
dalam ketiadaan sunyi.
Tak perlu visum,
tak perlu otopsi,
tak ada rigor mortis.
Cadaveric spasme.
Cold stiffening.
Post morten rigidity.
Matinya misteri...

Tapi dia mati terbunuh,
mati terbunuh.

Aku bisa katakan,karena dia telah berulang kali memasuki siklus itu,datang,menyapa,dan mati. Dan mati. Dan mati.

Setiap kematian menjelang,dirasakannya sakit itu pedih,tiap kematian adalah nektar bagi seseorang. Racun Juliet baginya.

Lelah. Lelah. Lelah mati.
Diputuskannya,sebelum yang lain memburu dan membunuhnya,dia mati bunuh diri,
terjun dari kepercayaan itu,mati dengan harga diri.
Seperti para samurai.

Dan tentang kematiannya,akulah yang paling berduka.
Ya dia mati bunuh diri,tapi bukankah,karena lelah terus menurus dibunuh?

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Puisi puisimu cantik, secantik sang pembuatnya...
pilihan katanya unik dan menarik.
salam kenal.






-Penikmat puisi_

Anonim mengatakan...

*baca komen di atas*

Pffffffffffft...

*OOT Mode : Off*

Anonim mengatakan...

Paling iku dikomen2 dewe karo sing due

Vio mengatakan...

@penikmat puisi : aih aih,u have such a good eyes..
@Rukma : gGGRR..
@anonim : huh. Sirik aja lu. :D

Vio mengatakan...

@penikmat puisi : aih aih,u have such a good eyes..
@Rukma : gGGRR..
@anonim : huh. Sirik aja lu. :D

Anonim mengatakan...

sulit menemukan magma dari syairmu ini
*bahasa kerennya dari ora ngerti :D *