879.
Dan masih saja.
Aku menatap angka itu.
879.
Apakah disana, nyawa serupa sampah, dibuang seperti tidak berguna? Deretan angka.
Mungkin seratus, mati tertembak.
Mungkin dua ratus, hancur bersama serpih misil besi.
Mungkin tiga ratus, bersama ledakan dan reruntuhan yang selalu sama, mematikan.
Apakah 879 nyawa itu, sama hangat, berdetak, dan berdarah seperti aku saat ini?
Hidup?
Lalu, menjemput ajal tiba tiba.
879. Untuk luka dan pedih yang akan selalu nestapa nelangsa di bumi kita.
1. 2. 3. 5. 7. 9. 11. 879.
Prima. Hidup. Prima. Mati.
879.
Hanya angka, mungkin,
namun sejujur jujurnya, angka itu mencekik dan memeluk hatiku erat, hampir aku tak dapat bernafas.
879.
Ya Tuhan, ya Allah.
Aku tidak sanggup bertanya.
1 komentar:
879 free pass ke surga. Kita? Ngantri.
Posting Komentar