Aku tidak pernah,
sungguh sungguh menyelamimu,
ternyata begitu sederhana,
pungkas lugas dan sahaja.
Muncul di kepalaku seperti dentang.
Dan aku tidak perlu menyelam.
Aku duduk di tepinya, merendam kaki kaki penatku,yang seharian mencari alamat relungmu.
Langit sungguh biru,
terik. Terik. Terik membakarku habis.
Bimbang.
Bagaimana aku akan menyelam dan berendam di dalamnya?
Sambil lalu kukenakan kembali alas kakiku, merapikan gulungan celana, dan
mencari danau lain untuk disinggahi.
Tentu saja, setelah kupancangkan tiang
itu di tepimu.
Terik.
Sungguh terik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar