Rabu, 21 Januari 2009

Menunggu.

Gawat. Hujan semakin menderas di Malang. Sore baru juga menjelang, tapi langit sudah sekelam petang.
Anjani, nama si cantik berambut panjang itu. Berdiri untuk berteduh di bawah kanopi kecil di kedai penjual pulsa. Tidak banyak menolong, karena hujan benar benar ganas, bukan sekedar gerimis kecil. Berkali kali, diliriknya jam tangan, seakan perbedaan waktu satu menit begitu berarti.
Sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit, gadis bertubuh semampai itu mulai tak sabar.

"Duh, mana si dia.."

Anjani menghela nafas tak sabar. Dingin, dan basah. Bukan perpaduan kondisi yang nyaman untuk menunggu.
Anjani tidak keberatan menunggu kalau ditemani secangkir kopi hangat, sofa, dan sebuah novel karangan pengarang kesukaannya. Oho tidak, dia bisa menunggu berjam jam kalau kondisinya seperti itu.
Tapi saat ini tidak banyak pilihan. Dia harus menunggu. Titik.
Menunggu di bawah hujan,yang entah mengapa makin menderas. Anjani melirik jam tangannya,entah untuk keberapa kali. Hujan belum juga bersahabat padanya, dan hari ini, dia terlupa membawa jaket.
Anjani mengeluh pelan. Tidak mengumpat, karena sejak kecil bundanya selalu menekankan, jangan menyerah pada emosi. Sabarlah, sabar. Satu hal yang selalu diingat oleh gadis cantik bermata indah itu.
Anjani menatap langit sekali lagi.
Belum ada tanda akan mereda. Dan dia yang ditunggu belum juga datang.
Anjani terpekur, sungguh dia mulai ragu. Tidak biasanya seperti ini.
Ada sesuatu yang salah, batinnya. Dia belum tahu apa, tapi pasti ada sesuatu. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Hampir sejam Anjani menanti, dan belum ada tanda tanda dia akan tiba. Sama sekali.

"Nunggu siapa mbak? Mari masuk, nunggu di dalam saja.."
Anjani menoleh. Ibu pemilik kedai rupanya. Anjani tersenyum malu.
Ia menggeleng.
"Nggak apa apa,bu. Saya diluar saja."
Si ibu tersenyum mahfum. Diamatinya gadis itu.
Cantik, berambut panjang, semampai dan tampak seperti anak orang berada. Mungkin menunggu kekasihnya.
"Mbak, permisi lho ya, kedainya mau saya tutup, silahkan menunggu ya. Bener nggak mau ikut ke dalam?"
Ibu pemilik kedai bertanya sekali lagi. Entah sungguh atau sopan santun, Anjani benar benar tidak tahu. Sekali lagi,ia menggeleng.
Kedai itu pun tutup.
Di bawah kanopi, Anjani kembali menunggu sendiri.

Menunggu, sungguh, menunggu itu pekerjaan paling meragukan dan melelahkan hati. Menanti, bertanya tanya, berharap, tanpa bisa berbuat apa apa.

Sudah hampir dua jam.
Anjani hampir menangis. Rumahnya jauh, jauh dari terminal. Masih dua jam perjalanan lagi. Harus,ya, dia harus melakukan sesuatu.
Tapi apa?

Ah! Anjani terpekik girang! Dia datang! Di saat terakhir, dia datang juga akhirnya. Anjani melambaikan tangan. Dia menepi.

"Lama bgt pak,kok nggak ada angkot ya dari tadi?"

"Oh,tadi pada demo di kantor DPRD mbak. Mbak mau kemana?"

"kesini pak" Anjani menyebutkan nama tempat tujuan terakhir angkot jurusan tersebut.

"nggak sampe mbak. Udah kesorean"
Angkot itupun berlalu dari hadapan Anjani.

Anjani tertegun. Entah kenapa, hari ini dia begitu bodoh. Menunggu begitu lama,untuk dikecewakan.

Anjani mengumpat. Sekali saja ya, bunda. Tak apa apalah sekali saja mengumpat.

Tidak ada komentar: