"Kenapa mesti kamu yang ditelpon? Kamu g deket ma dia kan?"
Sore itu, beredar kabar bahwa gadis itu menghilang. Lenyap. Aku sempat bersenandung senang. Diam diam.
Kecemburuan memang racun.
Tapi kesenangan tak berlangsung lama. Dia menghubungimu,iya, kekasihku sayang, nomormu. Kosong delapan satu sekian sekian.
Aku memaki. Lalu bertanya, mengapa kamu?
Kamu mengangkat bahu. Kamu abaikan panggilan itu. Aku tahu,kamu mengabaikannya karena ada aku.
Aku sungguh malas,sedang malas berdebat denganmu. Jadi,sudahlah.
Ternyata, kecemburuan itu pertanda. Panggilan itu pertanda.
Keesokannya, aku mengetahuinya dari bibirmu sendiri.
Kamu memang tidak pernah menyentuhku. Tapi kamu main gila dengannya. Kamu berjanji dengannya,dengan tubuhmu.
Dan kepadamu, dia ingin berpaling. Dia hilang, tenggelam, dan dia berpegang padamu.
Busuk. Aku memaki pelan.
Penghianatan. Sungguh busuk aromanya.
Aku diam,sayangku. Aku menangis dan menangis sampai letih.
Dari senja ke senja. Dari petang ke petang.
Menyerah pada perasaan. Kalau menangis bisa membunuh, matilah aku.
Kau menyembahku. Meminta kembali. Kutampar pelan pipimu, karena aku masih terlalu menyayangimu.
Lalu, bagaimana dengan dia? Mau kamu kemanakan janji yang kamu buat dengan tubuhmu itu?
Kamu bilang, aku,hanya aku satu satunya yang kamu sayang. Kamu rela berjanji.
Dan seperti semua kekasih yang sakit hati, aku luluh pada mata, tangan dan kata katamu. Aku berubah menjadi setan egois tak tahu diri. Kukatakan kepadamu, jauhi dia. Bunuh dia. Hapus dia.
Dan selamanya,kita akan berbahagia.
Trus, gw bangun dan menemukan pipi gw basah. Astaghfirullah.. Semoga gw ga sampai dibutakan cinta. Amiin.
Serem pisan euy. Naudzubillah,mg2 g kejadian beneeer ma gw. Ahahahaha.
^_^'
1 komentar:
baca ini ko inget lagu yolanda kanjen beng ya vi? :D
Posting Komentar